Tulisan saya ini pertama terbit di qureta. Jika anda tidak…

Tulisan saya ini pertama terbit di qureta. Jika anda tidak setuju, tak perlu membuli. Lawanlah ide dengan ide, tulisan dengan tulisan.

—————————————-

Memanusiakan Guru

Suatu waktu ketika saya sakit, saya mengunjungi dokter yang setelah pemeriksaan saya ketahui adalah wali murid dari seorang murid yang pernah saya ajar dulu. Dokter itu berkata bahwa ia sering mendengar anaknya bercerita mengenai saya. Karena itu patutlah saya sedikit berbangga.

Dalam pikiran saya waktu itu saya pasti akan dapat diskon atau malah akan digratiskan dari biaya pemeriksaan dan obat. Dan alhamdulillah pada akhirnya saya membayar biaya normal. Tidak ada diskon apalagi gratis.

Seketika itu saya kecewa. Bisa-bisanya Pak dokter tidak memberi keringanan sama sekali. Waktu itu saya merasa bahwa saya ini kan guru yang harus dimuliakan. Kalau tidak bisa gratis total, minimal dibebaskan dari ongkos pemeriksaan. Hitung-hitung balas budi atas jasa-jasa saya mendidik anaknya.

Baru di kemudian hari saya sadar. Menjadi guru adalah profesi yang saya pilih. Sama dengan pilihannya menjadi dokter. Dan karena guru adalah sebuah profesi maka seharusnya saya sudah merasa cukup dengan gaji yang saya sepakati. Sehingga saya tak berhak mengharapkan lebih dari orang lain yang merasakan atau menikmati jasa saya.

Seberapun berjasanya saya terhadap murid saya, saya tak berhak menuntut mereka lebih diluar kesepakatan. Sama seperti halnya dengan menjadi dokter. Seberapun dokter itu dianggap berjasa menyelamatkan nyawa anda, anda cukup membayarnya sesuai kesepakatan. Tidak perlu ada pahlawan atau orang-orang yang memperlakukannya sebagai pahlawan.

Kalau ada guru atau dokter yang tidak menuntut bayaran, itu murni karena kebaikan hatinya dan sama sekali tak ada hubungannya dengan profesi mereka yang mungkin secara etika dan budaya mewajibkan guru atau dokter harus ikhlas (tak mengharap imbalan) dalam mengamalkan ilmunya.

Masih sering kita dapati bahwa banyak orang yang menempatkan posisi guru terlalu tinggi. Disamakan dengan pahlawan sampai dianggap pelita yang menerangi kegelapan. Tak bisakah kita menempatkan guru sebagai manusia dengan segala macam kebutuhan dan kelemahannya? Di era keterbukaan semacam ini kita perlu mendegradasi posisi para guru kembali kepada hakikatnya, manusia biasa.

Guru bukan satu-satunya yang berperan mencetak generasi. Klaim bahwa guru adalah satu-satunya penentu generasi masa depan adalah klaim yang tidak berdasar. Sejauh yang saya tahu ada banyak hal yang mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Guru mungkin menjadi salah satu faktor yang signifikan, tapi tetap bukan satu-satunya.

Kita terlalu berharap lebih kepada manusia biasa ini untuk melakukan perubahan masa depan yang luar biasa. Sehingga ketika generasi kita tak kunjung berubah secara signifikan ke arah yg lebih baik, kita kerap kali kecewa dan sering menyalahkan sistem pendidikan terlebih guru yang ada di dalamnya.

Yang tak kalah konyolnya adalah perlakuan kita terhadap guru yang masih menempatkannya layaknya raja, bahkan dewa. Harus menunduk ketika berjalan di hadapannya, dilarang menatap langsung matanya, sampai dilarang berbicara kalau bukan guru yang mengawalinya. Kita terlampau sering berharap bahwa dengan adab semacam itu kita bisa ujuk-ujuk mendapatkan ilmu pengetahuan darinya.

Perlu kita pahami bersama bahwa norma-norma sopan-santun yang ada di masyarakat terus berubah seiring perubahan budaya. Di era kebebasan ini murid tidak bisa lagi dianggap sebagai manusia kasta kedua di hadapan gurunya.

Sehingga seorang murid tak perlu bertingkah sebagai hamba kepada rajanya. Ia tak perlu khawatir menatap langsung mata gurunya, atau bahkan mengajaknya bicara terlebih dulu.

Siswa dan guru harus ditempatkan pada strata yang sama dan tidak ada pembedaan. Keduanya saling membutuhkan. Guru membutuhkan siswa untuk menjalankan profesinya dan menerima gaji yang disepakati, sedangkan murid juga membutuhkan guru sebagai fasilitator dalam belajar. Guru tak perlu dihormati berlebihan, tapi guru perlu dimengerti secara lebih.

Tugas dan tujuan guru bukan untuk mencari kehormatan dan menjadi terhormat. Tujuan guru yang terutama adalah agar apa yang ia ajarkan bisa diterima oleh muridnya. Kehormatan guru datang bersamaan dengan keberhasilannya dalam mengajar, tak perlu memaksa.

Menghormati guru layaknya seorang raja yang tak pernah bersalah mungkin relevan pada masa lalu dimana guru menjadi satu-satunya sumber informasi dan tempat belajar. Namun di era membuka google semudah membuka telapak tangan, guru tidak bisa lagi mendominasi informasi.

Dalam hal kebenaran atau kevalidan, baik informasi yang disampaikan melalui guru, google wikipedia atau youtube sama-sama memiliki resiko salah.

Sehingga menganggap hanya informasi dari salah satu dari guru, google, wikipedia atau youtube yang paling benar diantara yang lain adalah hal konyol berikutnya. Oleh karenanya guru sebagai profesi harus mau dikritik, disalahkan andai memang salah dan harus mau berubah mengikuti tuntutan jaman.

Guru juga bukan pemilik wewenang untuk memberikan ilmu, itu adalah wilayah prerogatif Tuhan. Guru bukanlah dewa Ganesha yang mampu menganugrahkan ilmu pengetahuan hanya dengan cara kita menundukkan kepala dan memujanya.

Guru juga bukan malaikat Jibril yang punya akurasi 100% dalam penyampaian informasi. Dalam proses pembelajaran, penyampaian informasi itu harusnya lebih kepada diskusi, komunikasi dua arah antara guru dan siswanya, bukan doktrin layaknya penguasa kepada jajahannya.

Pada akhirnya kita sudah seharusnya menempatkan posisi guru kembali sebagai manusia yang profesinya, tugasnya sesuai yg diamanatkan undang-undang. Lantas, apakah salah jika kita menghormati guru, memujinya karena ia banyak berjasa? Tentu tidak.

Layaknya engkau menghargai dan menghormati ibumu bukan karena gelarnya sebagai ibu, melainkan atas apa yang telah ia lakukan untukmu. Maka seperti itulah hormatmu, pujianmu dan penghargaanmu kepada guru. Karena sosok dibalik profesinya, karena manusianya yang apa adanya, yang punya kekurangan dan kebutuhan.

Facebook Comments

Uncategorized

6 thoughts on “Tulisan saya ini pertama terbit di qureta. Jika anda tidak…

  1. Berapa % guru yg jujur mengakui akan kelemahannya, Masih dipertanyakan. Sebab tanpa pengakuan kelemahan guru Tidak termotivasi utk meningkatkan etos kerja dan kualitas ilmunya. Semoga tulisan di atasmenginspirasi guru guru yg berhati mulia

  2. sy sepakat dengan memposisikan guru sesuai amanat undang-undang, tapi ttap pada intinya pendidikan adalah induk semang kebudayaan. tentu saja bukan hanya pada ranah guru di dalam pendidikan formal saja, pendidikan terlalu luas cakupannya, paling tidak ada tiga ranah pendidikan, formal, in formal dan non formal, saling terintegrasi dan membentuk pandangan manusia di dalam suatu bangsa.

  3. Sebenarnya penghormatan siswa atau wali murid terhadap guru, itu sah2 saja, dan itu sudah sesuai dengan kata2 orang tua dulu yaitu hormat kepada guru akan mendapatkan ilmu. Trus ada lagi orang kata “ridha seorang pengajar akan membuat ilmu bermanfaat. Tapi yang jadi permasalahannya adalah banyak kita2 guru yang memposisikan dirinya layak dihormati oleh siswa atau wali siswa. Saya rasa bukan siswa nya atau wali siswa yang harus berhenti untuk menghormati guru, tapi guru harus sadar bahwa ia tidak seharusnya mengharapkan penghormatan dari siswa. Intinya mainset kita guru yang harus kita perbaiki. Saya sangat setuju sebagian dari tulisan diatas, yaitu guru harus berupaya untuk memperbaiki diri

  4. Klo saya pribadi sebagai seorang murid, saya adalah hamba dari guru saya, tp dengan pertimbangan tertentu, yaitu bagi guru2 yg layak untuk dijadikan tuan bagi saya… klo tidak layak saya jadikan tuan, maka dia adalah teman saya di sekolahan…

    Klo saya sebagai guru, maka saya akan menempatkan perilaku yg terpuji di semua keadaan dan lingkungan dan tak mengharapkan belas kasihan apapun dari murid saya, bahkan walau saya sedang kekurangan, ketika murid saya membutuhkan (misal; untuk bayar ujian), maka saya akan membantunya lebih dulu…

    Saya adalah teman terbaik dengan perilaku terpuji bagi murid2 saya dan saya akan mengajarkan perilaku itu baik secara lisan/tulisan maupun tindakan…

  5. Sungguh pandangan yang sangat sempit bahwa guru itu hanya dipandang dari sudut pandang sebagai profesi dan bukan sebagai transformator ilmu dan pembentuk karakter jika kita berpandangan yg lebih luas maka setiap orang dengan profesi apapun atau bahkan tak berprofesi kemudian mengajarkan ilmunya pada orang lain maka dia berhak disebut guru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *