TULISAN lama saya di qureta. sepertinya masih relevan untuk dibagikan…

TULISAN lama saya di qureta. sepertinya masih relevan untuk dibagikan sekarang, mumpung lagi musim penerimaan siswa baru.

Ganti Gerbang Sekolah
Masih Layakkah Tes Masuk Sekolah yang Ada Saat Ini?

Musim penerimaan siswa baru seperti ini memang menjadi musim yang panas di sekolah.Setiap sekolah selalu berusaha menaikkan citranya. Sekolah yang punya nama besar akan dengan bangga menyampaikan bahwa hanya sedikit siswa yang mereka terima dibandingkan dengan ribuah pendaftar seluruhnya. Sedangkan sekolah-sekolah pinggiran hanya pantas berebut “sisa” atau”muntahan” dari sekolah-sekolah di kota. Pertanyaannya, masih layakkah sistem penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang ada sekarang ini?

Sejatinya, Sekolah memang selalu berlomba untuk meningkatkan standarnya. Salah satu cara pintas yang dianggap oleh beberapa sekolah untuk mencapai hal tersebut adalah dengan memperketat gerbang (tes masuk sekolah) mereka dengan menambah banyak, dan bobot soal/persyaratan yang digunakan. Mereka menganggap bahwa jika input yang masuk di sekolah (dengan berbagai macam penyaringan) adalah input yang bagus, maka output yang di harapkan bisa terealisasi dengan mudah. dan semakin kacau output yang didapatkan, output sekolah ke depan juga tidak akan bisa diharapkan. Benarkah demikian?

Sekarang pikirkan. Jika kita menganggap bahwa guru adalah orang tua, maka harusnya sekolah adalah rumah, dan siswa-siswa tentulah adalah anak-anaknya. Lantas orang tua macam apa yang memilih anak-anaknya, mana yang boleh masuk dan mana yang tidak boleh masuk dalam rumah. Orang tua macam apa yang memasang jebakan dan rintangan pada gerbang rumahnya agar hanya anak yang pantas yang bisa masuk. Lebih-lebih gerbang (tes masuk) yang digunakan untuk memfilter sering kali hanya berdasar pada tiga mata pelajaran dewa (bahasa, matematika, ipa) yang jelas-jelas tidak merepresentasikan kondisi anak seutuhnya.

Sudah jelas idealnya sekolah bukanlah sebuah perusahaan yang perlu menyaring/menyeleksi karyawannya demi profit yang akan diperolehnya. Sekolah juga bukanlah tempat bekerja bagi para siswa yang harus dihitung untung rugi dalam penerimaan mereka di sekolah. Sekolah bukan lembaga yang mengutamakan profit sehingga harus menjaring siswa yang mampu memberikan “omset” lebih bagi sekolah. Dengan demikian sungguh tidak pantas menyeleksi siswa untuk meningkatkan standar sekolah yang sering kali ujung-ujungnya sebagai alat pencitraan sekolah semata.

Tes IQ biasanya menjadi tes yang paling sering dijadikan “hades gates”(gerbang neraka) di beberapa sekolah. Tujuannya jelas sebagai penyaring terkuat agar jangan sampai anak “bodoh” yang tidak layak berhasil masuk danditerima di sekolah. Tes IQ ini pada praktiknya kebanyakan hanya melihat logical intelegence dan language intelegence dalam diri seorang siswa. Apa benar hanya dua kecerdasan tersebut, kecerdasan logika dan bahasa yang berperan dalam diri seorang siswa?

Saya masih ingat bagaimana Cristiano Ronaldo menjawab tantangan dari gurunya. Seorang guru pernah bertanya meremehkan pada Ronaldo kecil apa yang akan didapatkannya dari sepak bola, ia menambahkan sepak bola tak akan bisa menghidupinya. Selanjutnya, kita tahu bahwa gurunya salah. Ronaldo bukanlah penyair termasyur atau fisikawan hebat seperti Einstein, tapi ia adalah jenius sepak bola di era ini. Capaian-capaiannya dalam sepak bola tidak akan mudah dilampau oleh orang lainya bahkan hingga beberapa dekade ke depan.

Tes IQ yang ada sekarang ini sudah tidak digunakan lagi di beberapa negara maju. Howard Gardner, guru besar bidang psikologi di Harvard University (yang terkenal dengan teori multiple intelligence) menyatakan bahwa setidaknya ada sembilan jenis intelegensi dalam diri manusia. Inteligensi tersebut tidak dapat dilihat dan diukur dari nilai-nilai yang didapat seseorang dari beberapa tes semata. Inteligensi menurutnya, hanya bisa dilihat ketika orang tersebut menghadapi masalah yang membutuhkan pemecahan, itupun bisa berubah seiring waktu dan bukanlah suatu harga mati.

Lagipula,bukankah sekolah adalah tempat belajar, dan jika memang demikian, bukankah seharusnya mereka yang datang ke sekolah adalah mereka yang masih “bodoh” (belum tau banyak hal) untuk kemudian belajar dan menguasaibeberapa hal (ilmu) yang mereka inginkan. Bukankan akan semakin membanggakan jika sekolah dapat memoles “batu-bara” menjadi “emas”.

Ada baiknya jika sekolah mau berbenah diri kearah yang benar, sekolah mulai mempertimbangkan untuk merombak sistem dan proses penerimaan siswa barunya. Daripada membuat tes masuk yang tidak bermanfaat dan cenderung mendiskriminasi anak antara mereka yang layak dengan mereka yang tidak, akan lebih bermanfaat jika sekolah memberikan tes bakat atau potensi siswa.

Dengan demikian nantinya sekolah diharapkan dapat menampung bakat dan potensi semua siswa, bukan malah memendam dan menggantikannya dengan doktrin-doktrin pelajaran dewa. Ada banyak ilmu yang masih layak dipelajari dari pada matapelajaran dewa yang selama ini menjadi santapan wajib dengan porsi jumbo bagisemua siswa.

Pada akhirnya, gerbang masuk sekolah bukan lah gerbang penuh duri dan kawat tajamyang hanya mengijinkan mereka yang kuat yang layak masuk, melainkan gerbang dengan sembilan pintu yang mampu menarik anak untuk masuk sesuai kemauan dan kemampuannya. Mulailah mencoba untuk meniru selection hat (topi seleksi) difilm Harry Potter.

Sebagai penutup saya ingin mengutip perkataan orang jenius tentang kejeniusan itu sendiri, Einstein pernah berkata “Everybody is a Genius. But if you judge a fish by its ability to climb a Tree, It will live its whole life believing that it is stupid”.

Facebook Comments

Uncategorized

7 thoughts on “TULISAN lama saya di qureta. sepertinya masih relevan untuk dibagikan…

  1. Saya tidak pernah mengajar di sekolah yg menggunakan seleksi akadamik.
    Memang sebaiknya sekeksi lebih pada yg sifatnya psikologi, bakat dan minat anak.
    Sekolah yg memiliki peminat melebihi kapasitas tinggal menentukan bidang apa yg akan dikembangkan oleh sekolah tsb.
    Sehingga tidak ada judgestifikasi anak pintar / anak bodoh karena persoalan diterima/ tdk diterimanya seorang anak di sebuah sekolah.

  2. Yang seperti ini bukan hanya fenomena di sekolah saja, di tingkat universitas pola-pola semacam ini sudah menjadi sistem. Calon mahasiswa dengan skill berkompetisi rendah tidak akan punya kesempatan berkukiah di universitas ternama dengan akreditasi terbaik yang kemudian berimbas pada karirnya, kesempatannya menjadi pegawai negeri via jalur lulusan cumlaude terhalang karena kampusnya berakreditasi B. Satu lagi anak bangsa dikorbankan.
    di tingkat sekolah juga kita udah kenyang lah ya dengan fenomena seperti ini

  3. bapak Rachmat D. Cemat yg sy hormati … dlm tulisan bapak di atas … “Sejatinya sekolah memang berlomba utk tingkatkan standar …” … ini … menurut kami tidak sejati … karena seharusnya … semua sekolah di indonesia … standar … baik yg di jakarta, kalbar, ntt, papua … dan itu adalah tugas ORANG YG KITA BAYAR LEWAT PAJAK YG KITA SETORKAN … utk standarisasi pendidikan … melalui kemendiknas … sehingga chaos tiap penerimaan siswa … tdk terjadi … mohon maaf kiranya tulisan kami tdk berkenan di hati bapak. salam pendidikan.😀👍

  4. Ini akibat ketidakpedulian pemetintah mewujudjan 8 SNPsehingga terhafi labelisasi sekolah bermetek SSN, Unggulanb dan favorite…

    Bgmn Negeri ini mau maju…

    Mirisnya para guru dan KepSek serta ortu…pun bangga dg label tsb

    Padahal biasanya sekolah berlabel diduduki kalangan mampu….dan cukup ke Bimbel kes sana sini seolah-olah keberhasilan tsb murni 100% dr KBM Sekolah

    Inilah ” keberhasilan ” semu ala duni pendidikan di Indonesia……pendidikan karakter berpura-pura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *