Sistem Pendidikan di Indonesia memaksa anak untuk belajar. Ini sistem…

Sistem Pendidikan di Indonesia memaksa anak untuk belajar.
Ini sistem pendidikan di Jepang:
Saat balita anak-anak dikumpulkan dalam satu ruangan bermain, beberapa guru mencatat dan memperhatikan anak anak yang sedang bermain. Ada yang senang bermain boneka, ada yang senang main mobil mobilan, ada yang senang main dokter dokteran, ada yang senang main tembak tembakan, dsb…
Setiap prilaku anak dicatat.
Contoh si A hobbynya main dokter dokteran, begitu si A masuk TK jurusannya kedokteran, tamat TK masuk SD jurusannya tetap kedokteran, SMA, Kuliah jurusannya tetap kedokteran, jadilah Sarjana bidang Medis yang handal, karena jurusan tsb sudah diminati oleh si A sejak balita.
Pelajaran Budi Pekerti, bahasa Asing, Karakter bangsa tetap diberikan
Begitu pula yang lain yang hobby militer dari TK sampai kuliah jurusan kemiliteran,
Yang hobby masak masak dari balita sampai kuliah jurusannya Tata Boga, dstnya.
Jadi mereka belajar memiliki minat tinggi, karena senang dengan hobbynya.
Klu di Indonesia klu anak didik ditanya mau masuk kuliah jurusan apa? Apa jawabnya, bingung jurusan apa ya?
Karena jumlah 13 mata pelajaran sebanyak itu mau tidak mau dipaksa untuk diajarkan.

Facebook Comments

Uncategorized

25 thoughts on “Sistem Pendidikan di Indonesia memaksa anak untuk belajar. Ini sistem…

  1. Sejatinya balita itu brpengaruh dg apa yg dia lihat, apa yg dia rasakn… Jd ketika anak itu sakit dn org tua mmbwanya k dokter anak, spulangnya pasti mnirukn tingkah polah seorang dokter, ktika si anak d ajak k dapur dn mmbantu ibunya, psti saat itu pula anak berpolah masak2n sprt ibunya, ktika sang ibu mengajak anak mmbuang sampah, psti d pkirnnya lbih baik jd tukang smpah krn cinta kbersihn, dll… Bakat itu sprtinya klo d arahkn sjak balita mnurut sy itu pmbunuhn karakter…

  2. Hhhhh…pembunuhan karakter?
    Balita yg dimaksud itu yg sudah layak sekolah, bukan yang masih netek, jd guru mengarahkan anak tersebut sesuai bakat anak, klu dipaksa belajar tidak sesuai bakatnya itulah namanya pembunuhan karakter, lihat jendela dunia, jangan berfikiran sempit.

  3. Menurut peneliti Israel Sara Smilansky, anak usia dini secara alamiah membutuhkan tiga jenis bermain sebagai moda belajar. Karena sebagai moda belajar, kata “bermain di sini” tidak dalam pengertian sebagai kegiatan semata-mata untuk bersenang-senang (rekreasi). Bermain itulah proses yang dilalui anak untuk menemukan pengetahuan baru, keterampilan baru, dan tentu saja mencapai tahap-tahapan perkembangannya.

    Kebutuhan bermain itu dimulai (sesuai dengan tahap kemampuannya) dari bermain sensorimotor, atau eksplorasi dengan bagian dan alat-alat tubuhnya. Lalu muncul tahap ekspresi melalui bermain pembangunan (constructive play). Kebutuhan bermain yang ketiga adalah main peran (socio-dramatic play). Dalam jenis bermain ini, anak mulai mengenal peran-peran kehidupan dan mencoba menjalankannya, seperti dokter-dokteran itu. Namun, bentuknya bisa sesederhana berpura-pura memberi makan boneka, misalnya. Karena itu, main peran juga sering disebut make-believe play.

    https://peduliusiadini.blogspot.co.id/2017/05/5-hal-pokok-dalam-pendidikan-anak-usia.html

  4. bakat anak tentu disesuaikan juga dgn fisiknya, umpamanya dia suka main tembak tembaan atau perang perangan, sementara fisiknya lemah, tubuhnya pendek, jd tak mungkin dididik di militer.

  5. Ndak usah jauh-jauh, mentor saya, salah satu penggagas Jakarta Philharmonic Orchestra.

    Pas kecil pianis ajaib juara Asean.

    S1 Teknik Nuklir UGM
    S2 Sistem Informatika New Jersey IT

    5 tahun mengabdi di Puspitek Serpong

    Selesai itu mengambil S1 dan S2 bidang Abaan (Conducting) di Sekolah Tinggi Musik Jerman.

    Dari 7 guru musik saya hanya 3 yang jebolan guru musik. Pengarah musik Dangdut Academy itu guru saya, Sarjana Ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *