Sertifikasi itu biasa. Tukang las untuk mengelas projek bawah air…

Sertifikasi itu biasa. Tukang las untuk mengelas projek bawah air itu harus punya sertifikat. Itu menunjukkan bahwa ia punya keahlian pada level tertentu. Sertifikat untuk tukang pijat itu juga untuk meyakinkan bahwa pemijatnya ahli jadi pasiennya tidak tambah sakit. Lah kalo sertifikasi guru, apa bisa diyakinkan bahwa guru bersertifikat bisa mengajar dengan level yg paling tinggi?

Facebook Comments

Uncategorized

26 thoughts on “Sertifikasi itu biasa. Tukang las untuk mengelas projek bawah air…

  1. Di Malaysia, kompetensi TIK (komputer) nya saja lebih dari 20an, mulai dari Word, EXcel, PPt, Internet dll. Kita…..?

    Mungkin saya pun tak layak menerima TPP. Wallahu a’lam
    yang penting “BELAJAR TERUS”

  2. Ya tentu saja. Di level ITU yg dimaksud. Pertanyaannya bukan itu. Apakah sertifikat yg dimilikinya itu memang menunjukkan sebuah keahlian pada bidang itu atau tidak? Apakah benar dia guru SD bersertifikat tsb bisa membaca Standar Isi, Membuat Silabus, Membuat RPP, Melaksanakan proses KBM, membuat Evaluasi, dll dengan Standar Proses yg dikeluarkan BSNP. Saya kok ragu.

  3. Pak S Agung Wibowo lho koq ragu ? pada waktu Diklat PLPG kan semua itu dipelajari, dibuat, dan dipraktekkan sehingga guru yang mendapat sertifikat pendidik itu layak untuk mendidik tidak hanya mengajar, begitu lho !

  4. Yah, ragulah Pak. Barusan bulan kemarin dg tanpa rasa bersalah seorang KepSek SD bercerita kepada saya bahwa semua tugas Diklat PPLGnya itu hasil beli. Dia membayar mahasiswa untuk mengerjakan tugasnya. Saya juga heran, bagaimana prosesnya kok bisa? Dia malah mengajarkan hal itu kepada rekan-rekan lain.

    Dan saya ragu, apa hanya KepSek itu saja yg berbuat itu, bagaimana dg yg lain?

  5. membaca status dan komen diatas saya numpang ingin juga mengemukakan sesuatu.
    Kita ambil contoh sprti diatas bahwa seorang tukang las bawah air diberi sertifikat keahliannya tukang las bawah air. Kemudian setelah dia mendapatkan sertifikat atasannya memindahkannya untuk bekerja di bagian bubut.
    Pertanyaannya kalau dia tidak mau melakukan pekerjaan atau dilakukan juga tapi hasilnya tak sempurna siapa yang salah dalam hal in.

  6. Kayaknya pak Pandapotan Harahap nggak bangga dengan Indonesia, lebih suka dengan malaysia…kok hanya 20 an pak, ditempatku tuk bisa ngajar di teknik komputer jaringan harus menguasai 29 kompetensi plus lulus ujian standar internasional cisco, piye pak, masih bangga dengan negara lain…?

  7. nggak usah ragu pa S Agung Wibowo ttg kepsek yang gituan, klo dia bisa mengajarkan ke rekan rekan lain artinya dia paham dengan yg dikerjakan mahasiswi yg notabene anaknya sendiri, hanya waktunya yang tidak cukup barangkali….hehehehe (Andai 1 hari=30jam, mengkhayal Mode=ON)….

  8. klo saat PLPG mbayar orang untuk mengerjakan tugas gimana caranya?..wong saat PLPG tugas2 dikerjakan hari itu, kumpulkan hari itu. Ya buat sendiri dong…Yang PD dong jadi guru,biar siswa2 kita jadi generasi muda yg PD untuk jujur dan tunjukkin intelektualitasnya. Indonesia..BISA!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *