Sertifikasi harus linier?

Sertifikasi harus linier?

Facebook Comments

Uncategorized

17 thoughts on “Sertifikasi harus linier?

  1. Berpindah haluan dri basis studi satu ke studi yg lain. Bisa saja, selama kompeten.
    Pertanyaannya..
    Bgm menguji kompetensi itu?
    Seorang sarjana dgn basis sastra inggris bisakah mengajar mata pelajaran fisika?
    Jwabannya? Pasti bisa.. Apakah dia mumpuni atau berkompeten?
    Bisa iya, bisa tidak? Bgm mengujinya?

    Budaya belajar di barat dgn indonesia mungkin sedkit berbeda.

    Contoh, berdsarkan penglaman dilapangan guru IPA (smp) dgn latar belakang biologi/fisika. Sedikit kesulitan mengajar fisika/biologi yg bukan basis ilmunya.
    Coba, tanya guru IPA disini…

  2. Jadi persoalannya, kita bisa dan berhak mengambil bidang studi atau belajar bidang apa saja tanpa ada batasan. Itu lebih baik..

    Tpi yang menjadi persoalan lain, klo ilmu yg kta pelajari itu akan kta ajarkan kepada org lain.

    Sy sdh mengalaminya dikelas sbg siswa/mahasiswa. Betapa “berbahayanya” org yg bukan kapasitasnya atau tdk menguasai ilmunya mengjarkan ilmu itu ke orang lain.

  3. Gak juga mas setiawan, semua org bisa belajar.

    Hanya saja pengalaman sy sbg guru ipa dgn basis biologi..
    Ada kekhawatiran “salah” setiap sy membahs konsep fisika yg saya ajarkan ke siswa.
    Dan itu selalu terjadi, sy keliru konsep, konsepnya kabur. Belajar lagi..
    Berbahaya menurut saya klo ilmu itu salah transfer…. Dosanya amal jariah.. Hehehe

  4. Tesis saya mengkaji masalah MISKONSEPSI pada mahasiswa calon guru dan bukan guru (nonkependidikan) di LPTK/PTN
    Penemuan saya, miskonsepi mahasiswa calon guru dan bukan itu terjadi diatas 70%.

    Ini bahaya, sebab miskonsepsi itu ditularkan.
    Diajarkan dri guru ke siswanya, bgtu seterusnya.

    Siapa yg menyebarkan miskonsepsi itu, maaf..
    Salah satu faktanya adlh guru dan dosen.
    Bayangkan..
    Belajar ilmunya sendiri bisa salah konsep. Bgm bisa bgtu?

    Miskonsepsi pada guru disekolah juga sdh bnyak tesis mengenai itu.

  5. Kita mungkin sdkit berbeda budaya belajarnya dgn msyarakat dunia barat. Dalam hal “upaya mencari dan mengkaji ilmu scra mandiri”

    Kajian miskonsepsi pada guru dgn bidang studinya cukup banyak di dalam negeri.

    Hasilnya apa, msh bnyak guru yg miskonsepsi pda bidang studinya sendiri.
    Persoalannya ada pada bgm kesadaran guru (kita sendiri) utk trus belajar, mengkaji, membahas, dan berdiskusi suatu ilmu.

    Di grup2 telegram/wa IGI MGMP biologi yg sy ikuti misalnya,
    ketika disodorkan bahasan apakah itu kajian soal, konsep dan masalah. Dan sbg inisiatornya terkadang.. (maaf) kecewa saya melihatnya.
    Berapa banyak guru yg aktif membahas itu?
    Sangat kurang…. Dari ratusan yg aktif hanya dua tiga orang yg diskusi.

  6. Nah, mas setiawan yg budiman..
    Ini salah satu kekurangan di negara kita. Kebijakan.
    Contoh lagi, guru IPA.
    Dulu guru dgn bidang studi biologi,fisika atau kimia boleh mengajar IPA di smp.
    Tapi seprti ada yg kurang lengkap pada penguasaan ilmunya.

    Makanya bru2 berapa tahun kebelakang,
    Muncullah prodi pendidikan IPA.
    Yg mahasiswanya belajar konsep fisika, biologi dan kimia. Sehingga diharapkan ketika jadi guru IPA dismp bisa mumpuni menguasai konsep fisik,kimia dan biologi.

    Kenapa tidk dari dulu ada?????
    Hehe…

  7. Mas Prawiro Sudirjo, amit hehehehe, kan ndilalah gus Achmad Munjid menyinggung mengenai mereka yang belajarnya lintas disiplin.

    Ini yang saya lihat menginisiasi dialektika antara organ/komunitas pendidikan (se)nusantara (terutama dari IGI) kok 4L.
    Harapan saya cuma satu bahwa mereka-mereka ini yang sudah rajin menjadi jembatan bisa ngomong langsung ke Presiden dan Mendikbud.
    Yang di atas juga hanya problem bawaan dari problem yang lebih besar dan mendalam. Tidak ada yang namanya “belajar” di sini, menjadi tahu iya.

    Mengutip Septian Dwi Cahyo (komponis), “di zaman internet ini semua sejauh klik, jadi belajar itu cuma masalah mau atau tidak” termasuk terkait dan kepada kenalan baru.

  8. Sertifikasi yg dilihat dari ijazah S1 ini aneh..
    Padahal Dirjen GTK yg lama sudah sepakat bahwa sertifikasi itu berdasarkan pelajaran yg diampunya… apalagi jika guru tsb sudah 5 – 10 tahun mengajar di mapel yg tidak linier dg S1nya..

  9. Nah itu pa SAW yang saya persoalkan dengan pengawas saat akan sertifikasi dulu. Saya “ngotot” dan akhirnya pengawas mengalah. Lha saya gak pernah ngajar PAI suruh sertifikasi PAI hanya karena ijazah S1 PAI padahal belasan tahun ngajar matematika

  10. Mestinya pemerintah jg mengakomodir problem teknis sperti kasus pak Eme Efendi.
    Termasuk jg mengakomodir ijzah S2nya yg bisa saja berbeda dgn S1nya.
    Sertifikasi dilihat dri ijazah S1 nya juga baik. Dilihat dari pelajaran yg diampunya juga baik.
    Misalnya, S1 saya biologi.
    sya mengajarnya IPA smp. Jika saya sdh sertifikasi, pemerintah mengakomodir sy utk bsa mengajar biologi SMA.
    yang sebelumnya tdk bisa.
    Hal yg sama berlaku bagi guru ips smp. Bisa mengajar mapel sosiologi yg tdk ada pada smp jika S1nya sosiologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *