Saya berharap ini jadi bahan diskusi yang menarik. Karena saya…

Saya berharap ini jadi bahan diskusi yang menarik. Karena saya sangat butuh jawaban yang pas. Saya yakin teman-teman di Grup IGI ini bisa memberi saya masukan.

1. Mengapa masuk sekolah dasar harus 7 tahun ? (padahal lulus TK bisa juga umur 6 tahun)
2. Mengapa di TK tidak boleh mengajarkan BALISTUNG ? (sedangkan SD klas 1 tidak lagi mengajarkan dasar BALISTUNG)
3. Metode balistung apa yang kira-kira tepat untuk AUD tanpa melanggar hak bermain mereka ?

Facebook Comments

Uncategorized

25 thoughts on “Saya berharap ini jadi bahan diskusi yang menarik. Karena saya…

  1. #Nyimak…
    menurut yg saya ketahui, anak yg terlalu dini diajari balistung dikhawatirkan kelak akan mudah bosan…dan ini sangat sulit disembuhkan. Beberapa pakar parenting malah berpendapat lebih mudah mengajari membaca drpd menumbuhkan kemauan budaya baca.

    Untuk usia masuk SD, itu sebenarnya 6 tahun +, kebetulan saya operator sekolah… Anak yg blm mencapai 6 tahun tdk bisa diinput ke dapodik sbg alat mengakomodir peraturan ini…
    #cmiiw

  2. SY sudah membuktikan d masa paud tk anak sy jago membaca dan menghitung dan masuk sd pun kurang dr 6 th dan sy menyesalnya ketika menginjak smp dia dah mulai agak jenuh dan berubh drastis nilai mat turun drastis sy bingung sy g tau lg apa yg hrs sy lakukN akhirnya sy pesantrenin aja dan sy g pernah nuntut apa apa dr anak sy biarlah berjalan sesuai waktu

  3. 1.Memperhatikan aspek perkembangan ank,,pd usia 7thn…ank sdh siap,mandiri untuk menerima pelajaran SD.kalo di tmpt sya….hrus sdh 6+
    2.Di Tk,,Balistung di kemas seringan mungkin….contoh dng gambar atau alat peraga…..bukan lngsung pd angkanya,,qta guru TK hanya mengenalkan sja…..
    Selanjutnya tugas guru SD……
    3.Seperti di atas qt kemas seringan mungkin agar ank tdk bosan.Belajar sambil bermain-bermain sambil belajar…..

    #ygsayatau

  4. Coba ikut urun pandapat .
    1. Usia 7 tahun Karena dilihat Dari kematengan siap belajar dengan lebih baik, sehingga Dari mental, sikap, serta motorik halus Dan kasar sudah benar benar siap.
    Sudah paham Bahasa perintah Dan sudah bisa bertanggung jawab atas tugas atau perintah yg diperintahkan.

    2. Untuk Balistung memang harusnya Di SD kelas satu, coba lihat kompetensi kemampuan anak Di usia SD, namun mencari buku kelas 1 SD yg mengajarkan Balistung sudah sulit, yg Ada Di buku TK, kenapa bisa Di TK Karena TK bersaing untuk menunjukan anak didiknya sudah bisa Balistung sehingga lebih siap Di SD. Walaupun hal ini melanggar kurikulum TK Karena harusnya hanya pengenalan Hurup Dan angka.
    Dan disisi lain SD juga melakukan test masuk yg mengukur kemampuan Balistung Dari calon peserta didik agar memudahkan saat belajar Di SD nantinya

  5. Yang lebih menarik di sini, jadi terpetakan “apa yang tergolong kegiatan mengajar dan belajar”, dan lebih jauh “siapa pelaku kegiatan belajar” di antara kita guru.

    Untuk no. 2 saya akan berani bilang diajarkan.

    Di sekolah membaca konteks.
    Buku dibaca dan ditulis saat bermain bersama keluarga di rumah.

    Karena itu di SD (berbasis pedagogi abad 21 dan umumnya beracuan) mancanegara, tidak ada buku PR, namun jurnal membaca yang harus diisi dan ditandatangan orangtua.

  6. yang terjadi faktanya …
    Proses belajar menuju kemampuan baca tulis pada anak dilakukan dengan pendekatan formal, seperti layaknya anak-anak SD. Karena hal ini dikhawatirkan akan membuat anak merasa tertekan dan jenuh, mengingat kemampuan anak untuk bisa berkonsentrasi pada satu topik bahasan biasanya masih sangat terbatas dan secara umum anak masih berada dalam dunia bermain. Apalagi bila dalam memberi pelajaran tersebut dilakukan dengan kekerasan, misalnya disertai dengan bentakan-bentakan, hinaan atau ejekan manakala anak belum mampu mengikuti pelajaran baca tulis yang diberikan, maka bukan tidak mungkin anak akan tumbuh menjadi anak rendah diri, yang justru hal ini akan menghambat perkembangan kemampuannya secara optimal kelak kemudian hari.

  7. saya percaya dan meyakini bila masa peka itu datangnya tidak sama, makanya saya menolak keras ketika belajar membaca di TK diberlakukan klasikal. tetapi kenyataan nya banyak guru TK yang praktiknya hampir sama. memenuhi kebutuhan pasar. yang nggak begitu ya nggak dilirik masyarakat TK nya. Duuuh dilema bagi saya.

  8. Pak Setiawan Agung Wibowo, jika menyimak = kodifikasi bunyi secara konseptual oleh kognisi, maka proses tulis-baca sudah dimulai di usia janin 13 pekan. Janin sudah merekam dan menyusun sistem bahasa berdasarkan apa yang ia dengar.

    Terkait fungsi komunikatif simbol bahasa dan matematika (Slamet Iman Santoso), maka praktik komunikasi itu mendahului apa yang kita sebut proses belajar bahasa (simbol apa saja).

  9. Berdasarkan pengalaman saya sekolah usia belum genap 6 tahun. Waktu itu desa tempat tinggal saya belum ada TK. Saya ingat betul baru bisa menulis dan lancar membaca di kelas 2 SD. Guru SD saya dengan sabar mngajari kami menulis dan membaca. Banyak juga teman2 saya yg tidak naik kelas. Alhamdulillah saya bisa mengikuti.

    Setiap anak memiliki perkembangan yg berbeda. Prinsipny jgn memaksakan. Sebagai ortu cukup mengarahkan. Ibu saya lulusan SD alhamdulillah saya bisa lulus S2.

  10. Kalau saya melihat dari sisi lain. Pemerintah mau menekan jumlah penduduk. Kalau anak masuk sekolah di usia 7 tahun, maka kemungkinan anak selesai kuliah di umur 24 tahun. Apabila menunggu mapan baru menikah, maka kemungkinan dia menikah di umur 28-30. Jadi dia kemungkinan punya anak hanya dua, bahkan bisa cuma satu.

  11. 1. Batasan usia TK dan SD ditentukan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang merujuk pada NAEYC (National Association for the Education of Young Children). TK = 4-6 tahun. SD = 6-8 tahun. Pemerintah juga mempertimbangkan budaya “tawar-menawar” masyarakat Indonesia. Aturan 7 tahun masuk SD maknanya adalah yang mendekati, sama dengan, atau lebih dari 7 tahun dapat diterima di SD. Bahkan anak didik saya sendiri masih 5 tahun (seharusnya baru naik Kelompok B) sudah ditarik ke SD.

    2. TK boleh mengenalkan calistung asalkan sesuai dengan kemauan dan kemampuan anak. Berdasarkan KD (Kompetensi Dasar) dan indikator. Membaca KD 3.10/4.10 memahami bahasa reseptif (menyimak dan membaca)/menunjukkan kemampuan berbahasa reseptif (menyimak dan membaca), KD 3.11/4.11 memahami bahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal)/menunjukkan kemampuan berbahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal). Salah satu indikatornya adalah anak senang membaca buku-buku bergambar.
    Menulis KD 3.3/4.3 mengenal anggota tubuh, fungsi dan gerakannya untuk pengembangan motorik kasar dan motorik halus/menggunakan anggota tubuh untuk pengembangan motorik kasar dan halus, KD 3.12/4.12 mengenal keaksaraan awal melalui bermain/menunjukkan kemampuan keaksaraan awal dalam berbagai bentuk karya. Indikatornya antara lain menulis huruf-huruf dari namanya sendiri, menuliskan cerita sendiri berdasarkan hasil karya yang dibuatnya. Berhitung KD 3.6/4.6 mengenal benda-benda di sekitarnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi, dan ciri-ciri lainnya)/menyampaikan tentang apa dan bagaimana benda-benda di sekitar yang dikenalnya (nama, warna, bentuk, ukuran, pola, sifat, suara, tekstur, fungsi, dan ciri-ciri lainnya) melalui berbagai hasil karya. Indikatornya antara lain menyebutkan lambang bilangan 1-10, menggunakan lambang bilangan untuk menghitung, mencocokkan bilangan dengan lambang bilangan. Belajar menjadi ahli tafsir terkait itu semua 😅😂

  12. Saya tidak mengerti apa itu neurosains…
    Tetapi saya sarankan untuk berkonsultasi pada ahli kesehatan anak khususnya tumbuh kembang anak.
    Disana semua dapat ditemukan jawabannya.
    Selain itu jangan dilupakan juga untuk berkonsultasi dengan ahli psikologi anak, agar lebih menajamkan pemahamannya.
    Peraturan 7thn tsb semua mengacu pada kesehatan tumbuh kembang anak dan psikoslogis anak pada rentang usia tsb.

    Sekolah TK dapat langsung berkonsultasi kepada para ahli tsb.
    Dan menurut saya seharusnya pada pendidikan guru PAUD ada materi mata kuliah yang langsung diberikan oleh para praktisi dari keilmuan tsb.

  13. Saya setuju anak masuk SD mendekati 7 th. Atau 7 th pas. Karena pengalaman saya anak pertama dr usia 3 th SDH saya ikutkan les, TK . Akhirnya sy masukkan SD umur 5 th 9 bulan. Memang bisa baca menulis. Tapi tetap kemandirian nya belum ad keinginannya masih main saja. Tanggung jawab nya belum cukup. Sampai sekarang SDH kls 6 SD tanggung jawabnya msh kurang.
    Lain halnya adenya sy masukkan TK 5 th dan TK b 6 th dengan tujuan SD bisa mandiri. Dan ternyata benar SDH kelihatan kemandiriannya dan tanggung jawabnya.

    Saya juga sebagai guru SD swasta kadang menerima siswa usia kurang dari 7 th. Memang SDH dapat membaca tapi kemandirian nya masih kurang bahkan ada anak yang minta orang tua nya masuk kelas. Bukan bermasalah di kelas 1 atau kelas rendah saja. Di kelas tinggi anak juga bisa mengalami titik jenuh dalam belajar.
    Tapi tidak menutup kemungkinan yg usianya lebih muda pun bisa lebih mandiri dan berprestasi. Di sinilah peran orang tua untuk dpt melihat anaknya SDH siap sekolah atau belum jangan hanya malu anaknya sudah besar belum di sekolahkan padahal sianak belum siap bersekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *