REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: KH A Mustafa Bisri (Gus Mus)Dulu agama menghancurkan…

#Ketika_Agama_Kehilangan_Tuhan

Oleh: KH A Mustafa Bisri (Gus Mus)

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh sebab agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas di antara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.
Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diper-Tuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.

Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci?
Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.
Agama dijadikan senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.

( http://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/02/14/p44dom396-ketika-agama-kehilangan-tuhan )

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: KH A Mustafa Bisri (Gus Mus)Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.Dulu orang berhenti membunuh sebab agama. Sekarang orang saling…

Facebook Comments

Uncategorized

14 thoughts on “REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: KH A Mustafa Bisri (Gus Mus)Dulu agama menghancurkan…

  1. hanya Nabi yang benar, selain Nabi pasti punya salah , sombong kalau tidak mau mengakui / menyadari, sehingga sepatutnya untuk saling mengingatkan. bahkan didalam berbuat baik untuk orang lain apa bisa yakin sudah ikhlas tidak ada kepentingan pribadi didalamnya.

  2. Kebenaran ada standarnya. Yaitu Alquran dan sunnah. Kalau melenceng dari Alquran dan sunnah itu namanya benere dewe alias membenarkan diri sendiri. Ah sebenarnya malas membahas yang beginian di forum yang terhormat ini.

  3. arti agama adalah apa yang diyakini manusia & manusai bisa salah dalam apa yang diyakininya / dalam beragama . Gus Mus sudah mengingatkan bahwa pada masa kini yaitu kami cenderung keliru dalam beragama dan untuk kembali meniru para pendahulu kami yang amalanya lebih memberikan rasa aman . ingat arti islam adalah selamat , jika keberadaan diri justru membuat sekitar merasa terancam maka perlu dipertanyakan ke-islam-annya

  4. Saya tergelitik dengan kalimat “agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa” Seorang teman saya yang atheis dan mengaku pluralis pernah menjudge saya dengan kalimat terakhir ini, terutama di bagian “pelarian karena lemah sebagai manusia”, versi teman saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *