Realita, ekspektasi pemerintah, harapan siswa tentang SEKOLAH. Banyak yang bilang…

Realita, ekspektasi pemerintah, harapan siswa tentang SEKOLAH.

Banyak yang bilang masa-masa paling indah adalah masa sekolah. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Betul sekali. Kita mulai mencari teman diawali dari lingkungan sekolah. Membentuk kepribadian untuk masyarakat dimulai dari sekolah. Mendapat ilmu dari sekolah. Everything we begin it from school.

Di lain sisi, ada hal yang mungkin beberapa orang memahami suka duka di sekolah, khususnya sebagai murid. Sebagai murid, kita pasti pernah yang namanya mencontek, nyerpek, atau melakukan kecurangan-kecurangan lainnya. Tapi, bolehkah kita berkeluh kesah mengenai hal-hal yang memberatkan kita sebagai murid?

Di sekolah, kita dituntut untuk mendapatkan NILAI BAGUS bagaimanapun caranya. Jika nilaimu tidak bagus maka kamu dicap GAK PINTER, PEMALAS, DLL. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan nilai bagus, kami sebagai murid sebagian besar melakukan kecurangan agar para guru tidak melabel kami sebagai murid bodoh dan menjatuhkan rasa percaya diri kami. Nyerpek, nyontek, beli kunci, itu hal biasa. Kejujuran? Nggak berlaku lagi di sekolah. Guru cuma menuntut NILAI BAGUS.

Kadang saat ujian, pengawas kami santai-santai saja (tergantung pengawasnya killer apa nggak) kalau kita menyontek/tanya teman. Bahkan ada guru yang mengijinkan kami saling bertanya asal jangan rame. It’s real. Tapi ada juga guru killer yang ngawasi ujian kaya cctv.

Di sekolah, kami juga belajar 11 jam/hari. Waktu kita habis hanya untuk di sekolah. Belum lagi bimbel di luar sekolah selama 1-2 jam. Itupun guru masih memberi kami tugas praktek/tertulis yang belum tentu kami bisa selesaikan sesuai deadline karena jadwal yang padat. Kami seperti dicetak menjadi robot. Belajar, belajar, belajar. Berkeluh kesah, kami sudah tau jawabannya “Ya gimana lagi, ini sudah kebijakan menteri. Kurikulum tidak bisa apa-apa.” Jika sudah begitu, murid jelas pasrah dengan keadaan.

Pemerintah membentuk lembaga pendidikan formal sebagai pembentuk karakter individu dan untuk menunjang perkembangan iptek. Namun, menurut saya caranya salah. Pendidikan karakter di sekolah memang sangat diperlukan agar tercipta individu yang berkarakter kuat dan disiplin. Tapi tidak dengan cara membentuknya untuk menjadi robot yang harus belajar tanpa kenal lelah. Pemerintah membuat kebijakan-kebijakan baru khususnya pada angkatan kelahiran 1998-2000. USBN dibuat seluruh mapel, essai seluruh mapel dan itupun bukan isian singkat. Untuk membentuk siswa berkarakter harus dibekali guru yang bisa memahami siswanya. Setiap siswa berbeda sifatnya. Seharusnya guru tidak boleh pilih kasih, melabeli murid dengan sebutan “bodoh”. “pemalas” hanya karena ia tak pandai di mapel guru tersebut. Bila seorang murid sedang menggambar saat mapelnya, seharusnya guru tersebut mendukung dengan berkata “wah gambaranmu bagus ya, kayanya besok bakal jadi komikus nih.” memotivasinya. Bukan memarahinya. Haruskah Indonesia mencontoh negara-negara maju? Sekolah hanya 8 jam sehari tanpa pr. Mapel yang diambil hanyalah mapel minatnya agar kelak ia bisa bekerja sesuai bakat dan minatnya.

Harapannya, semoga pendidikan Indonesia bisa lebih baik dari sekarang. Melakukan survey sebelum membuat kebijakan untuk pendidikan baru. Memahami bakat dan minat siswa. Memotivasi siswa, bukan melabel buruk. Bila ia tidak pintar dalam akademis, jangan membuat rasa percaya dirinya turun dengan mengatakan dirinya tidak pintar, tapi lihatlah potensinya di luar akademis. Karena tidak semua dalam kehidupan bergantung pada angka yang tertera di raport.

Fin.

#tulisan murid saya klas XII, pikiran pikiran gurunya membentuk karakter pemikiranya

Facebook Comments

Uncategorized

7 thoughts on “Realita, ekspektasi pemerintah, harapan siswa tentang SEKOLAH. Banyak yang bilang…

  1. Setuju.. Sy yakin semoga lewat tulisan ini bisa mewakili semua jiwa jiwa murid dan mantan murid yg sdh menjadi guru agar lebih termotivasi lg dlm memajukan pendidikan di indonesia sesuai dg amalan Pancasila dan UUD 1945..#indonesiabisa

  2. Saya kok kurang yakin kalau guru2 melabeli murid dg label “bodoh”. Andai ada, rasanya cenderung sedikit. Setidaknya beberapa sekolah yg saya pernah jalani guru2nya tdk bgt. Apalagi sejak rapor tdk mencantumkan ranking. Mungkin anak2 sendiri yg ingin meneguhkan eksistensi diri agar dinilai orang bagus, lalu memoles diri dg cara salah. Jadi tdk sepenuhnya guru yg menuntun jejak negatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *