Permah lihat iklan seorang ibu yg mengantarkan sebuah pinsil kepada…

Permah lihat iklan seorang ibu yg mengantarkan sebuah pinsil kepada anaknya d sklh? Sptnya bagus. Buat sy gak. Itu ortu yg slh mengartikan sayang. Iklan itu menurut sy tdk mendidik krn tdk membuat anak memiliki karakter pemecah masalah n atau pengambil resiko.
Yg komen blh tdk sepakat, asal tdk menghujat.

Facebook Comments

Uncategorized

26 thoughts on “Permah lihat iklan seorang ibu yg mengantarkan sebuah pinsil kepada…

  1. Sy sepakat,.. kalau anak tertinggal benda, tugas atau apapun itu resiko yg harus mereka tanggung. Ortu cukup mengingatkan tugas atau perlengkapan apa saja yg mereka hrs bawa sebelum mereka pergi. Jika tertinggal artinya kelalaian ada di si anak. Pembelajaran kedisiplinan. ..

  2. Belum lihat iklannya, tapi menurut saya…
    Hal itu tidak masalah. Itu malah secara tidak langsung membuat anak menjadi orang yang lebih baik, dimana dia merasa mendapat perhatian penuh dari orang tuanya. Merasa dicintai sepenuhnya oleh keluarganya. Dan ketika seseorang merasa mendapat cinta, dia akan percaya diri melangkah.

  3. Pembelajaran kemandirian, kedisiplinan dan tanggung jawab itu sdh di mulai dr rumah.. tindakan ortu mengantar pinsil anak ke sekolah..( meski sepele) sebenarnya berakibat pd karakter anak yg akan merasa bhw kesulitannya akan diselesaikan oleh ortu..

  4. yang mana ya iklannya? (hiks.. jarang denger tivi)
    Iklannya kurang mengena ilustrasinya, jadi pesan urgenitasnya “sebuah pensil” dianggap kurang menantang kemampuan problem solving seorang anak.

    Dulu pernah ada iklan perjuangan seorang ayah ke sekolah untuk mengantar project menggambar yg sudah dikerjakan semalam suntuk anaknya. Karena kesiangan dan terburu-buru malah tugas itu tertinggal di meja belajarnya. Sang ayah tahu project gambar itu sangat penting bagi studi anaknya hari itu. Kelak (msh dlm durasi iklan yg sama), sang anak menjadi seorang Arsitek yang sukses. Pesannya adlh peran turut serta orangtua, bentuk kepeduliannya sangat berati dala! proses pendidikan seorang anak, jadi tidak hanya dibebankan ke pihak sekolah.

  5. Assalamu’alaikum,

    Dulu, ketika puteri-puteri kami masih TK hingga Perguruan Tinggi, jarak nya dari rumah jauh sekitar 23 km. Setiap hari sejak TK- SMP berkendaraan langganan antar jemput. Dijemput paling, diantar belakangan. SMA – Perguruan Tinggi naik kendaraan umum. Ganti dari rumah ke Jombang, dari Jombang ke Ciledug, dari Ciledug ke Slipi. Dari Slipi ke Grogol. Dari Grogol jalan ke Trisakti. Puteri yg satunya. Dari rumah ke Rempoa. Dari Rempoa ke Blok M, dari Blok M jalan ke Al- Azhar.
    Sejak TK sdh kami ajarkan utk mandiri namun dlm bimbingan & pantauan kami. Belajar, mempersiapkan buku sekolah, dll. Mengerjakan PR sejak TK sampai SMA dlm bimbingan & arahan saya (IPS& Bhs) & suami (IPA, Matematika, Eksak lainnya). Bahkan ketika masih kuliah, menyelesaikan S 1 & S 2 nya utk metodologi penelitian & pengumpulan data nya kami membimbing & membantu.
    Sejak TK tiap malam, selalu check & recheck buku utk esok harinya.
    Suatu hari, saya ada kegiatan kantor. Saya remind by phone kpd mereka dlm hal persiapan piranti sekolahnya utk esok hari.
    Nah, ada buku PR (ketika masih SD) salah seorang puteri saya yg tdk terbawa alias ketinggalan. Ketika suami & saya mo berangkat terlihat buku PR tsb ada di meja (yg hrs dibawa hari tsb).
    Kami, tdk mengirimkan ke sekolanya. Supaya menjadi pelajaran utk dirinya. Dimarahi gurunya ya memang …. namun itulah sebuah pelajaran berharga…… Sejak itu, dia lebih teliti & berhati-hati dlm hal apa pun sampai sekarang….
    Puteri kami yg satunya, pernah terlambat sekolah. Dimarahi oleh gurunya….namun lagi-lagi, hal tsb adalah sebuah pelajaran….sejak itu selalu berangkat lebih pagi.
    Sesungguhnya kami bisa mengantar & menjemput sekolah sendiri supaya tidak pernah terlambat, namun tdk kami lakukan agar mereka belajar bersosialisasi atau kami mengantarkan buku yg ketinggalan…. namun, hal itu tdk kami lakukan karena kami Sangat Sayang & Sangat Mencintai Mereka…..
    Maka dari itu, salah satu dari warisan kami adalah Kemandirian, Kehati-hatian & Kewaspadaan Yang Proporsional…. dan Selalu Berpikiran & Berprasangka Positif Dengan Berpedoman pada Ajaran Agama & Senantiasa Berpegang Teguh kpd Allah SWT.

    Demikian,
    dengan penuh hormat,
    pengalaman ini kami share TIDAK BERMAKSUD untuk menyombongkan diri.
    Just Sharing by True Story….

    Salam Ta’zim
    Wassalamu’alaikum

  6. “ketinggalan pensil”-nya sudah terjadi, maka itu bagian dari takdir… lha setiap manusia pasti berusaha untuk mendapat takdir yg baik sehingga ibu itu tergolong manusia yg mengusahakan takdir yg baik buat anaknya…

  7. Iklan yg bu nining maksudkan itu adalah iklan menyambut hari ibu dimana iklan tersebut ingin menonjolkan sosok kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dan tidak menonjolkan sosok si anak. Jadi gak ada kaitannya dgn kemandirian or kedewasaan or kemalasan or tanggungjawab si anak. Intinya pahami dulu iklannya barulah posting biar gak dianggap gagal paham oleh khalayak ramai πŸ˜€

  8. Salam kenal,
    Sepakat mbak nining suryaningsih,

    Bukankah kesulitan tdk hanya melahirkan penderitaan, melainkan juga memberi pelajaran bagi yg mengalaminya.

    Lalu bagaimana anak akan belajar mengambil intisari /hikmah dari sebuah kesulitan yg dia hadapi, jika selalu datang malaikat penolong yg menyelesaikan masalahnya.

    Mungkin satu kali anak harus menghadapi sebuah resiko dari kelalaian/keteledoran yg sdh dia lakukan, namun itu akan menjadi peristiwa berharga agar setelah nya si anak lebih bisa melatih rasa tanggung jawab nya, melatih kepekaan dan kepedulian terhadap kepentingan dan kebutuhan pribadinya sendiri.
    Dan mnurut saya, sebuah peristiwa jauh lebih membekas dalam memberikan pelajaran sekaligus lebih menginspirasinya daripada ribuan nasehat yg dimana dia tdk mengalaminya sendiri.

    Suatu ketika, dimasa depannya, anak akan dihadapkan pada kehidupan nyata. Dengan berbagai masalah, dan rintangan hidup. Dimana tidak mungkin dia akan terus dikelilingi perlindungan dan pertolongan dari orang lain, melainkan harus menghadapinya dgn kemampuannya sendiri. Mengandalkan diri sendiri.

    Menjadi terlatih sejak kecil dalam memecahkan masalah2 dan situasi yg konkrit, akan sangat berguna bagi terampilnya dia di masa depannya sbg pemecah masalah dan pembuat keputusan terbaik.

    Setiap orang tua pasti punya cinta yg besar kpd anak2 nya. TAPI, untuk membesarkan anak-anak, cinta saja tidak lah cukup. Butuh #cinta yang berfikir.

    Kalau boleh saya mengutip sebuah kalimat dari sebuah buku yg berjudul Cinta Yang Berfikir karya mba ellen kristi,,
    ” … Seperti tumbuhan yang selalu dilindungi dari cuaca, akan segera binasa begitu kena badai “.

    Just sharing.
    πŸ™πŸ™

  9. Bu nining yg terhormat, memahami maksud yg disampaikan oleh sebuah iklan itu gak perlu sampai ke arah panjang x lebar πŸ˜€ penyampaian sebuah iklan itu begitu simple dan sederhana aja, setiap iklan dalam menyampaikan sesuatu hal itu emang berbeda2 caranya. Tapi yg terpenting iklan itu tdk sampai menyampaikan sesuatu hal ke arah yg menjurus panjang x lebar hingga orang2 yg meliat jd bingung dan gak ngerti apa maksud dari penyampaian iklan tersebut. πŸ™‚ Ibu nining belum pernah membaca syarat2 dalam membuat iklan ya? πŸ˜€ Syarat dalam membuat iklan itu salah satunya harus dibikin sesimple dan sesederhama mungkin agar yg meliat bisa ngerti dan tau. Kalau iklan dibuat ribet harus mengarah ke panjang x lebar seperti yg bu nining inginkan itu lalu apa kata dunia? πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *