PENGABDIAN DAN INTEGRITAS (part 3) Mampu untuk menakar daya pikir…

PENGABDIAN DAN INTEGRITAS (part 3)

Mampu untuk menakar daya pikir dan hati, dan menolak apapun yang tidak sesuai dengan takaran pikiran dan hatinya. Bicara soal keberanian untuk maju menjadi pemimpin di usia belia di negeri ini memang banyak sekali. Sentot prawira sudirja menjadi senopati perang umur 17 tahun, Pak Kusna mendirikan PNI srkitar umur 26 tahun, mbah saya putri menjadi Guru SD mulai umur 16 tahun, mbah kung masuk AURI umur 17 tahun. Tapi saya tidak menceritakan mbah saya, karena takut terbayang bayang sepak terjangnya alias nempil mukti “mendeme kejeron, nyunggine keduwuren” hal ini sejalan dengan aturan KPU ketika baliho kampanye pemilu nanti dilarang menggunakan gambar Pak Kusna, Mbah Hasyim, Mbah Dahlan, Pak Harto.

Kembali ke tulisan pengabdian dan integritas. Pada kesempatan kali ini sudah memasuki bagian ke 3. Saya mencoba menuliskan tentang kisah pemuda dengan usia 25 tahun sudah menduduki jabatan Bupati. Tepatnya menjadi Bupati Majene. Sigap,trengginas dan penuh dedikasi dalam mengabdi. Tk segan untuk pasang badan untuk menggagalkan penyelundupan seorang komandan bataliyon 710.

Meski demikian, pria kelahiran mandar sulawesi selatan bukanlah seorang birokrat, melainkan hakim yang teguh. Jebolan Fakultas Hukum UNHAS serta meraih gelar doktoral Hukum di Undip. Pria yang akrab dipanggil pak Barlop. Karier diawali menjadi jaksa, menjadi Bupati, menjadi kepala Kejaksaan, duta besar RI di Arab dan dipenghujung karier menjadi menteri kehakiman dan jaksa agung sebelum beliau meninggal ketika melaksanakan tugas perjalanan dinas tahun 2001karena kelelahan dan kecapekan. Sebuh pengabdian dan integritas.

Siapa yang tak kenal pak Barlop. Berani menyeret kejahatan ” kerah putih” yang dianggap lumrah hingga saat ini. Beliau mencokol pak Tony gozal dengan tuduhan manipulasi dana ” REBOISASI”. Pak Barlop juga mengejat keterlibatan orang orang pejabat teras yang ditengarai menjadi “MALING” bagi bangsanya. Diantaranya Pak Ari**n Pani**o, Pak Ak**r Tan***g, Pak Nur**n Ha**d dalam kasus korupsi. Selain itu, ia pun berani mengusut kasus yang melibatkan penguasa saat itu.

Sebuah keberanian Pak Barlop di ibaratkan seperti penguasa yang tak mendamba istana. Ada sebuah tulisan yang menerangkan bahwa seorang jaksa yang bertugas diwilayah kerja yang dipimpin Pak Barlop harus menguras isi tangki bbm mobil dinas yang ditumpanginya karena telah mengisi full dengan BBM. Pak Barlop cukup hafal secara mendetail, karena ketika berangkat melakukan perjalanan dinas mobilnya menunjukan huruf “E” di spedometernya, dan ketika pulang menjadi “F”. “Saya punya uang jalan sendiri dari negara, dan itu harus saya pakai”, seloroh pak Barlop.

Kedisiplinan, segala sesuatu harus sesuai dengan peruntukanya. Mobil dinas hanya untuk kepentingan dinas, tak boleh untuk kepentingan pribadi. Semua milik negara ada aturan pakainya. Bagi Pak Baharudin Lopa hal itu sangat mendasar, karena fasilitas negara berasal dari pajak pajak yang dibayar oleh rakyat dan sebagai pegawai pengabdi negara pantang untuk menggunakan kesempatan untuk kepentingan pribadi. Mobil dinas bagi Pak Baharudin Lopa hanya digunakan ketika beliau berdinas, untuk hari diluar dinas beliau menggunakan kendaraan umum “pete pete” tak hanya soal mobil dinas yang sangat disiplin dalam menggunakanya, di kediaman Pak Barlop konon telepon dinas selalu terkunci, bahkan ketika menjabat kepala kejaksaan sulses beluai memasang telepon umum koin. Suguh ketakutan yang amat sangat bila tidak amanah mengunakan jabatanya.

Menjalankan amanah jabatan tak segan menjebloskan tanpa kompromi seorang kyai dan sahabatnya yang kebetulan sering mengisi acara pengajian dirumahnya. Pak K.H Bada*i seorang kepala Kanwil DEPAG Sulsel yang terjerat korupsi pengadaan fiktif Alquran harus berserah diri ketika kasusnya tetap diusut meskulipun berkali kali mohon maaf. Ada yang lain pula hal unik yang dimiliki pak Barlop, yaitu beluau tidak segan segan menolak hadiah yang diberikan kepadanya sebagai wujud terimakasih. Mungkin karena tidak mau berhutang budi. Bagi Pak Barlop yang patut diberi hadiah adalah rakyat yang susah. Dirinya sudah punya gaji ketika sebagai pengabdi negeri. Suatu ketika Pak Barlop mendapatkannhadiah dari Gubernur Sultra Pak H. Edi Sabara yang jumlahnya sangat besar, beliau tidak tergiur untuk mengambil uangnya. Pak Barlop malah menyuruh ajudanya untuk menghantar hadiah tersebut kepanti jompo.

Hari hari ini negeri kita rindu sosok negarawan yang tidak sibuk rebutan proyek, sibuk saling tikam untuk kepentingan. Bangsa yang besar harus tidak melupakan kisah pendahulunya. Memahami adab dan menjaga keberfungsian diri. Tajam mengingat keadaan ditengah hiruk pikuk kepentingan sangat diperlukan. Demikian tulisan pengabdian dan integrasi part 3.

#Ajar Putra D
Ketua IGI MADIUN

Facebook Comments

Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *