*PEMIMPIN DALAM BUDAYA RAJA JAWA* 🌸🌸🌸 Oleh: Joko Mursitho Ketika…

*PEMIMPIN DALAM BUDAYA RAJA JAWA*
🌸🌸🌸
Oleh: Joko Mursitho

Ketika seorang raja akan lengser keprabon dan akan digantikan oleh putera mahkotanya maka ia senantiasa menyampaikan pitutur sebagai tradisi kepemimpinan raja-raja antara lain sebagai berikut:

_Putraku sebesar apapun cintaku pada rakyatku tapi ayahanda sadar bahwa kecintaan pada rakyat adalah *sebuah tanggung-jawab* dan sebelum Gusti Allah yang Maha Wikan memanggilku Yanda harus menyerahkan tanggung-jawab ini kepadamu sebagai wujud warisan dan darma *cinta kasih* ayahandamu pada kawula. Tapi ingatlah puteraku…, menerima warisan mahkota itu bukan seperti menerima warisan raja-brana, tetapi mewariskan tugas berat pemikiran dan bahkan keprihatinan yang dilakukan dengan *tarak brata*. Bagaimana menjadi raja yang akan dikenang atas keluhuran dan keagungan budi-darmanya maka wajib memiliki bekal:

1. Hanyakrawati – yakni cerdas dan memiliki wawasan yang luas, belajar dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa, berguru kepada orang yang *patut* dan belajar pada alam semesta, demi untuk meningkatkan harkat dan martabat para kawula.
2. Bahudenda – yakni memiliki badan yang kuat, dan terampil dengan mengolah dan melatih diri tentang _ilmu kanuragan, kasantikan, aji jaya-kawijayan_. Yakni semua ilmu yang bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan: diri, lingkungan dan rakyat.
3. Ber Budi – yakni memiliki sifat welas asih, santun dan dermawan. Senang dan siap memberikan pertolongan baik harta, pikiran, dan tenaga, dengan tanpa melihat _rupa_ tinggi-rendahnya derajad dan pangkat yang ditolongnya, tetapi melihat besar kecilnya kesulitan yang dideritanya.
4. Bawalaksana – yakni menepati sumpah, satya, maupun apa yang dijanjikan dan apa yang dikatakan. *Sabda pandita ratu* tidak boleh mengingkari semua yang diucapkan. Seakan-akan _idu geni_, apa saja yang dikatakan adalah *jadi*. Oleh karena itu sebagai pemimpin jangan mengumbar janji, karena setiap janji itu taruhannya adalah *jiwa dan kehormatan diri*.
5. Manjing ajur-ajer – di dalam pergaulan tidak boleh memilih orang, walaupun _pidak pedarakan (orang yang rendah status sosial, status budaya, maupun status ekonominya)_ haruslah tetap menjadi sahabat. Pidak pedarakan inilah sebenarnya yang disebut dengan *pana kawan*. Pana itu artinya tahu dan paham, kawan itu sahabat. Pana-kawan inilah yang bisa menjadi teman dalam suka dan duka.

Demikianlah putraku lima hal ini peganglah teguh, dalam hidup kamu dan janganlah kamu merasa sebagai _raja bagi manusia_ karena sejatinya kamu adalah makhluk Tuhan yang harus tetap menyembah dan menghamba kepada-Nya, membela negara dan rakyat denga *laku utama*.

20 Maret 2018
_Liring kawruh kinarya marta martani_
Sumber wejangan Eyang Kakung R. Tjitra Soedira.

Facebook Comments

Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *