Pemerintah seharusnya lebih selektif dalam memberikan ijin pendirian sekolah. Terutana…

Pemerintah seharusnya lebih selektif dalam memberikan ijin pendirian sekolah. Terutana sekolah milik Yayasan yang sistemnya Dinasti.
Mengapa demikian? Sekolah2 dengan sistem dinasti, hampir bisa dipastikan kalau sebagian besar gurunya adalah keluarga sendiri. Setelah lulus sma, sudah aman mengajar di sekolah milik neneknya, sudah terdaftar di dapodik, tentunya sudah terhitung masa mengajar dong ya…
Nah lulusan sma tsb akan dicarikan ijasah, atau kuliah sabtu minggu, atau kuliah yg cuma datang pas ujian saja. Dapat ijasah, keluarlah nuptk. Karena masa mengajarnya sudah lama, dipanggillah untuk sertifikasi. Hebat kan? Nah kami biasa menyebut guru seperti itu dengan istilah “guru karbitan”.

Belum selesai sampai di sini. Seiring bertambahnya lembaga di yayasan tersebut, dan anggota keluarga semuanya sudah diangkat sebagai guru, maka tentu akan dibutuhkan guru dari luar. Yang bukan anggota keluarga.
Guru-guru dari luar ini kebanyakan fresh graduate. Ya…masih minim pengalaman jadi masih mudah diatur. Guru luar di dalam distem dinasti tidak berhak berpendapat. Atau mungkin lebih tepatnya tidak berani berpendapat. Merasa bukan siapa2, dst…

Memang tidak semua. Itu contoh. Tapi seberapa banyak yang seperti itu? Ratusan lembaga pendidikan, bahkan mungkin lebih. Berapa siswa yang ada di dalamnya? Ribuan dong…mungkin lebih juga. Sebab sekolah dinasty ini tidak mempedulikan input. Yang penting banyak siswanya, dana bospun lancar.

Mari renungkan sambil minum kopi.
Kira2 bagaimana sumber daya manusia yang dihasilkan dari sistem seperti ini

Tuban, 24 maret 2018

NI’MATUS SHOLIKHAH

GURU

Facebook Comments

Uncategorized

25 thoughts on “Pemerintah seharusnya lebih selektif dalam memberikan ijin pendirian sekolah. Terutana…

  1. toch saya juga di yayasan dynasti, namun kami mampu berkopetensi seperti sekolah yg d anggap populer, saya d sana juga bukan dari dynasti mereka namun saya mampu mempengaruhi kebijakan mereka bahkan berperan besar di sana. intinya hindari berprasangka negatif terhadap yayasan tersebut dan gunakan esensi niat guru “mencerdaskan kehidupan bangsa”

  2. Di Medan ada sklh yayasan spt status diatas. Kebetulan ank saya sklh di yayasan tersebut. Saat ank saya kls 5 ada PR matematikanya, kebetulan sy juga Sarjana matematika. Saya sdh ajari ank saya, dan tugasnya sdh benar. Setelah dikoreksi gurunya malah disalahkan. PR nya tentang garis bilangan. Sy datangi gurunya dan sy protes, dan saya uji. Ternyata penjumlahan bil pecahan pun tak tau. Ternyata hnya tamat SMA, tp tamat SMA pun masak gk tau bil pecahan? Aneh kan?

  3. Banyak sekolah seperti itu. Di tempat kami dari keseluruhan sekolah swasta rata2 berpraktek seperti itu, yang saya tahu hanya sekolah saya yang tidak melakukan hal itu. Penulis posting tidak sedang berprasangka. Beliau sedang membeberkan fakta. Biasanya sekolah2 seperti ini mudah sekali memecat guru bukan atas dasar kinerja, lebih pada masalah personal. Oleh karena itu guru ambil aman saja, tidak mau berpendapat yang akan membuat yayasan tidak suka. Dan setiap keluarga yayasan akan menjadi “bos” kita. Saya mengimpikan IGI atau PGRI punya bidang advokasi untuk mendampingi guru2 yang dipecat tanpa dasar oleh yayasan.

  4. Saya pun mengajar di yayasan alhamdulillah baik2 saja. Tapi saya pun mengakui memang ad beberapa sekolah spt dipaparkan diatas.
    Kebanyakan sekolah spt itu berada dalam naungan kemenag. Kebanyakan madrasah/sekolah negeri naungan kemenag awalnya berasal dr yayasan yang sudah bisa berkembang n jumlah siswa banyak.
    Di kecamatan saya, ada dua yayaaan yg memecat guru PNS yang kemudian yayasan tsb bermasalah dgn kemenag.

  5. Tidak monopoli kemenag Bu. Ditempat saya malah ada sekolah di bawah naungan diknas yang lebih mudah mengeluarkan guru daripada mengeluarkan murid yang berkali2 melanggar peraturan

  6. Kalo yg dikeluhkan ttg sistem pengelolaan yayasan…. ya tinggal lihat dulu seperti apa yayasanya.
    Yg jelas “YAYASAN” itu didalamnya ada unsur infestasi bisnis. Dan bisnis itu usaha untuk mendapat keuntungan “uang”.
    Jadi jawabnya kebijakan tergantung pemilik yayasan.

  7. Apa salahnya Yayasan ? Jika mereka merekrut orang orang dari kalangan keluarga mereka sendiri. Saya pikir itu wewenagan Yayasan. Yakinlah…, guru yang berkualitas itu pasti bisa mengabdi dimana saja.

  8. Ini cuma masalah pribadi, bukan masalah guru, seorang guru tidak akan menjelekan sesama guru, fokuslah mencerdaskan siswa, masalah dinasti dalam yayasan itu hak pemilik yayasan, kl yayasan tsb memiliki kualitas yg rendah tentu para orang tua tidak akan menyekolahkan anaknya disana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *