OLIMPIADE DAN KASTA SEKOLAH: Percayalah bahwa sekolah Indonesia itu berkasta….

OLIMPIADE DAN KASTA SEKOLAH:

Percayalah bahwa sekolah Indonesia itu berkasta. Sekolah kaya-sekolah miskin, sekolah unggulan – sekolah biasa, sekolah favorit – sekolah buangan, sekolah kota- sekolah pinggiran, dan sekolah para juara – sekolah para pecundang.

Sekolah kaya, unggulan dan favorit selalu diuntungkan karena memiliki sumber dana berlimpah dan input siswa yang terpilih dengan tingkat kecerdasan serta asupan gizi yang tinggi. Sedangkan sekolah miskin, biasa dan pinggiran memiliki sumber finansial serba terbatas dan input siswanya merupakan sisa saringan dari sekolah level di atasnya.

Adalah tidak fair jika sekolah dengan perbedaan kasta itu dipertandingkan dalam satu event lomba akademik semisal Olimpiade Sains dan sejenisnya. Mengapa? Karena mustahil “sekolah kere” bisa mengejar lebarnya kesenjangan usaha dan kualitas atas “sekolah kaya”. Sekolah kaya jauh hari telah merancang program khusus pelatihan dan camp persiapan menghadapi Olimpiade. Mereka mengalokasikan dana khusus untuk itu. Pelatih-pelatih terbaik mantan juara olimpiade didatangkan untuk membekali siswanya. Asupan gizi para calon juara olimpiade ini betul-betul mereka perhatikan, dari seberapa banyak sayur dan daging yang harus dikonsumsi hingga suplemen tertentu yang harus ditelan. Belum lagi perhatian orangtua siswanya juga luar biasa, mereka mendukung penuh ihtiar sekolah untuk meloloskan anak-anaknya hingga ke jenjang lomba tertinggi. Di rumah, anak-anak Olimp ini masih diasah oleh guru les yang bermutu.

Sebaliknya, hal yang kontras terjadi di “sekolah kere” dalam mempersiapkan siswa olimpiadenya. Jangan harap sekolah kere ini memiliki alokasi dana khusus untuk pelatihan olimpiade. Biasanya para calon peserta olimpide di sekolah kere ini ditunjuk satu minggu sebelum bertanding. Mereka tidak begitu paham tentang medan lomba yang akan mereka ikuti. Pelatih mereka adalah guru mereka sendiri, yang tidak memiliki pengalaman juara olimpiade dan sudah kelelahan serta tidak fokus karena harus berbagi waktu dan energi dengan kelas reguler. Jangan tanya tentang asupan gizi atau suplemen, makan nasi padang dan minum segelas aqua sudah mewah bagi mereka. Yang penting kenyang. Mereka hanya memiliki semangat namun tidak memperoleh porsi latihan yang berkualitas.

Dimana letak nalaritas keadilan jika dua kutub dengan kasta berbeda dipertandingkan? Hanya mukjizat yang bisa mengangkat sekolah kere menjadi juara dan mengalahkan sekolah kaya. Hanya siswa sekolah kere bertalenta luar biasa yang bisa muncul ke permukaan dan itu biasanya 10 tahun sekali karena harus menunggu bakat alam pembawa keberuntungan.

So, …….masih layakkah olimpiade akademik diselenggarakan?

Facebook Comments

Uncategorized

25 thoughts on “OLIMPIADE DAN KASTA SEKOLAH: Percayalah bahwa sekolah Indonesia itu berkasta….

  1. Saya salah satu ortu siswa yg dari sejak kecil tidak suka dgn event olimpiade tsb…alasannya persis sama dgn penulis artikel diatas.
    Tidak fair dan memperlombakan sebuah ketimpangan nyata didepan mata.
    Saya pernah memiliki idea, bgmn jika anak2 jagoan olimpiade tsb bertukar sekolah selama 2 – 4 minggu di sekolah minim fasilitas di kotanya ? Dan siswa yg terpandai di sekolah minim fasilitas bersekolah di tempat yg full fasilitas alias sekolah favorit?

    Bagaimana hasilnya? silakan dicoba untuk bhn kajian dan penelitian

  2. Sekolah kecil bisa punya semangat besar untuk mengalahkan sekolah besar, yg penting berusaha dan jangan patah semangat. Jadikan olimpiade sebagai ajang mengukir prestasi dan jgn membuat anak didik patah semangat dengan mengaitkan olimpiade dengan kasta sekolah.

  3. Olimpiade atau lomba sains itu bagus, tp implementasi atau prosesnya yg salah dan terkesan tidak pernah dipikirkan bgmn prosedur yg terbaik.
    Bagi saya malah lebih bagus lomba cerdas cermat jaman TVRI dulu itu, dimana setiap sekolah sdh dijadwalkan dgn baik oleh pihak TVRI.

  4. antara kenyataan kepasrahan dan keterbatasan yang tertuang menjadi sebuah pemikiran kompleks dibalik semangat pantang menyerah atau menyerah pasrah pada sebuah sistem yang telah terjadi di dunia pendidikan saat ini

  5. Walaupun kami sekolah kecil, tetapi kami punya semangat besar. kami tidak patah semangat. Alhamdulillah kami pernah juara meskipun tidak sampai ke tingkat nasional. Sekarang kami memberi semangat terus ke anak melalui bimbingan terpadu untuk calon peserta Olimpiade. Intinya kita jangan patah semangat…

  6. Peran pemerintah sgt penting dlm perkara ini. Saya sbgai pelaku pendidikan akan mndukung sebesar2nya bila pemerintah/ barang kali capres cawapres beserta mendikbud mampu menyelesaikan masalah yg lumrah ini.
    Sy kira negeri2 maju di luar sn, sprt Finland, Japan, Singapore, dll, memiliki perhitungan baik di dalam kebijakan terkait kasta utk penddikan ini.

  7. Kompetisi itu alamiah, bahkan sejak di dalam rahim kita sdh berkompetisi utk bisa duluan mencapai sel telur. Kompetitif itu perlu agar ada motivasi. Tp jgn lupa jiwa kolaboratif, agar tidak egois. Seklh pinggiran tak perlu ikut2an melawan sklh unggul utk bidsng akademik. Ciptakan bidang keunggulan sendiri : olah raga, seni, wira usaha, pramuka, baksos, paskibra, karakter, rohani/keagamaan, pilih saja sesuai potensi. We dont have to fight the giant. Ikuti saja blue ocean strategy…

  8. .
    Berbagai program pemerintah juga lebih condong mengalir ke Sekolah yang dianggap unggulan..

    Jika saja pemerintah mau mendongkrak sekolah maaf “pinggiran”
    Dengan mengalihkan berbagai program unggulan ke sekolah2 terpinggir tsb..

    Karena, yg saya alami..
    Guru2 di sekolah unggulan diklat dan workshop melulu..(sampai gumoh)

    Disisi lain guru dari sekolah pinggiran tidak mendapatkan diklat seperti sekolah unggulan..

  9. Ikutilah persaingan, karena persaingan akan memunculkan kualitas, tidak ada sekolah kere dan sekolah kaya, yang ada : merasa kalah sebelum bertanding karena gak ada persiapan, persiapan yg baik adalah kunci keberhasilan

  10. BUKTI KASTANISASI:

    Kasus SNMPTN tahun inilah buktinya. Sekian puluh ribu SMA pinggiran memilih tidak mengisi PDSS dan out dari proses SNMPTN. Mengapa? Karena merasa kalah bersaing dengan sekolah unggulan.

    Bertahun tahun mereka mengisi PDSS dan tak satupun siswa mereka nyangkut di PTN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *