MENYADAP OBROLAN LEPAS DI POSKAMLING (respect rendah kepada GURU) Hampir…

MENYADAP OBROLAN LEPAS DI POSKAMLING

(respect rendah kepada GURU)

Hampir setiap jelang paruh malam saya sempatkan menemani bapak-bapak saat jaga kamling di pos ronda RT.

Tema obrolan beberapa hari yang lalu masih tentang perilaku guru dan viral tentang penganiyaan guru terhadap siswa dan atau sebaliknya sekaligus juga tentang ‘gaji extra’ guru yang disebut TPG.

Menyimak obrolan, sambil menahan diri untuk tak segera merespon obrolan, ada beberapa pemikiran logis dari obrolan yang menurut saya bisa dipakai sebagai rujukan kenapa guru mulai sedang tak dihormati sebagai profesi mulia, diantaranya:
1. Guru sekarang lebih banyak memberi penugasan mandiri kepada siswa yang ujung-ujungnya orang tua ikut jadi ribet.

2. Ada semacam pergeseran perilaku gaya hidup guru yang mulai masuk dalam kelas mewah dengan kepemilikan mobil baru, berwisata kuliner lokal tiap weekend bersama keluarga.

3. Guru masih juga membuka usaha “BISNIS” Bimbel dengan tarif yang cukup membuat decak dan geleng-geleng kepala.

4. Guru menikmati liburan yang cukup banyak

Sedangkan masalah guru tak dihargai dalam arti sistem penggajian tak terlalu berwarna hitam dalam obrolan meskipun ada celoteh:

“Tiap orang bisa kok jadi guru wat ngajarin orang lain. Soal mendidik, kita-kita juga bisa kok mendidik tentang kehidupan dan agama. Lhaa wat apa coba kita ngasih contoh anak kita wat begini begitu biar sukses ntar hidupnya juga ada tuh guru ngaji sore hari, jadi ndak kudu di sekolahan kan…”

“Bedalah kalo sama dokter atau misalnya mekanik. Hasil kerja mereka jelas langsung keliatan hasilnya. Bisa sembuh dari sakit dan mekanik bisa bikin betul ndandani mesin…”

Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk berusaha menjelaskan tentang ‘warna hitam’ yang mereka kuas labelkan pada guru.

Saya tak berharap mereka akan segera berubah pandangan jika saya jelaskan tentang yang sebenar soal ‘hiruk pikuk’ GURU’.

Tapi paling tidak mereka pernah mendengar tentang yang sebenarnya terjadi…

Facebook Comments

Uncategorized

14 thoughts on “MENYADAP OBROLAN LEPAS DI POSKAMLING (respect rendah kepada GURU) Hampir…

  1. di tempat kami … motto nya kalau diterjemahkan … “Kami Ada, Untuk Masa Depan Anda Yang Lebih Baik” … artinya belajar bahasa inggris di tempat kami … bukan utk ulangan, unbk, atawa rapor …

    justru lewat bhs internasional “mereka2” dpt disekolahkan ke luar negeri … utk jadi dokter hebat … utk jadi “super engineer” yg bkn utk temukan tambang emas yg kemudian pihak asing menggerusnya … dan kita jadi buruhnya …

    jadi … memang harus terima … dg senyum terbaik dan lapang dada … bahwa hasil jerih payah bapak, kami, dan teman2 seprofesi … TIDAK KENTARA … tidak kasat mata … hingga waktunya nanti …

    siapa yg mbuat seorang jadi dokter? seorang dosen/guru …

    siapa yg membuat engineer jadi hebat tau ada minyak mentah atau tidak di dalam tanah? dosen/guru …

    siapa yg mendidik wakil rakyat utk tetap korup … korup … dan korup??? … naaah … ini mestinya postingan baru di group ini … 😀👍

  2. Masyarakat menilai guru dari luarnya saja, mereka membahas dari kulit luar dan sudut pandang yang berbeda, pekerjaan guru memang hasilnya beberapa tahun kemudian, untuk jangka waktu pendek manfaatnya dianggap biasa saja dan wajar, mereka tidak melihat siswa SD kelas 1 yang belum lancar membaca bisa menjadi lancar membaca bahkan menulis dengan rapi, itu semua dianggap wajar jadi tetep semangat saja dan jadikan semua jerih payah kita sebagai ibadah kepada Allah

  3. Sisi hitam guru saat ini sebagian hanya fokus pada kesejahteraan. Ketika berbincang sesama guru yg menjadi topik seru hanya masalah gaji dan tunjangan. Mungkin itu hasil dari sistem pembagian honor yg tdk merata disekolah. Guru yg kerjanya bagus tp honornya dikit, ada yg sertifikasi tp mengajarnya asal2an..
    Ketidak adilan itu akan membuat kondisi sekolah jd tdk nyaman. Ada byk hal yg saya rasa perlu dibenahi dlm sistemnya.

  4. Hrs diakui, mmg msh ada sbgn guru yg mengajar semata untuk mendapatkan gaji + tunjangan, bukan untuk mencerdaskan siswa.
    Meski jumlahnya tdk banyak kita hrs mengingat kembali peribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga”.
    Itu yg sy simpulkan, setidaknya di daerah sy.

  5. 1. Guru sekarang lebih banyak memberi penugasan mandiri kepada siswa yang ujung-ujungnya orang tua ikut jadi ribet.
    2. Ada semacam pergeseran perilaku gaya hidup guru yang mulai masuk dalam kelas mewah dengan kepemilikan mobil baru, berwisata kuliner lokal tiap weekend bersama keluarga.
    3. Guru masih juga membuka usaha “BISNIS” Bimbel dengan tarif yang cukup membuat decak dan geleng-geleng kepala.
    4. Guru menikmati liburan yang cukup banyak

    logis dari mana?
    semuanya asumsi yang tidak logis…
    poin 1, jangan salahkan guru karna kurikulumnya memang spt itu.
    poin 2, boro boro hidup mewah atau beli mobil atau pun kuliner mingguan, buat bulanan pun tidak cukup.
    poin 3 bagi kami guru honor, klo tidak buka les mau makan dari mana anak istri kami… apa tarif les 10 rb itu mahal / bikin geleng geleng kepala?
    poin 4, libur panjang dari hongkong… saat libur semester kami harus piket dan workshop, jatah cuti tahunanpun gak ada, 1 minggu 6 hari kerja.

    jadi logis nya dimana?

  6. Dan seperti umumnya manusia, sama seperti saya ini, lebih mudah menilai kejelekan daripada kebaikan… makanya para peronda tersebut tidak melihat keadaan guru dengan sebenar2nya…

  7. Betul Bapak Ibu, jangan dimasukan hati ya, rekan-rekan Guru… Obrolan wong nglilir (orang ronda menahan kantuk, makan angin). Kaya obrolan Emak-emak yg lg di warung.. Orang luar hanya melihat yg nampak di permukaan. Didlm kolam pendidikan, kita tahu guru2 bersih dan hebat masih lbh banyak. Guru itu plg tinggi gajinya brp tho? (guru loh ya..) Apa yg mau dikorupsi biar bisa jln2 sampai ke Hongkong? Klo yg bisa begitu pasti ada sumber pemasukan kedua, penghasilan suaminya, warisan keluarganya? Yg pny bisnis guede sampinganpun, yow biasanya muntaber klo nyambi jd guru (aktif). Mending ngurusin bisnisnya yg guede drpd mumet sm administrasinya, walopun passion mengajar ada… Tp klo murni gaji guru thok til, bs nyicil rumah dan kendaraan sambil nyekolahin anak sampai kuliah aja udah ngos-ngosan kok.. Ini kondisi umum, tenan po tenan.. Tp yo disyukuri, lha kok meskipun begitu Gusti paring berkah.. Ga ada anake guru yg ndak kuliah aplg putus sekolah.. Keberhasilan Guru itu kan klo anak yg dididiknya bisa MENTAS.. Tribute for Teachers

Leave a Reply to Dikky Saeful Arif Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *