Mendisiplinkan Tidak Perlu Menghukum Saya punya seorang teman guru yang…

Mendisiplinkan Tidak Perlu Menghukum

Saya punya seorang teman guru yang punya dedikasi luar biasa pada dunia pendidikan. Kemauannya untuk belajar dan belajar patut diacungi jempol. Ia tidak mau menua dalam kebodohan.

Dulu sekali mungkin ia termasuk satu dari sekian guru yang percaya pada kekerasan dan hukuman. Tapi seiring waktu dia belajar dari pengalaman dan teori-teori pendidikan yang baru. Bahwa kekerasan hanya mengajarkan kekerasan.

Satu contoh yang masih ia lakukan sampai sekarang adalah caranya yang luar biasa dalam menangani siswa kami yang terlambat.

Dulu, zaman saya SMA ketika saya dan beberapa teman terlambat tidak jarang pukulan atau hukuman fisik lainnya kami terima. Lantas apakah saya menyalahkan guru saya atas hukuman dan kekerasan yang saya terima. Tentu tidak. Saya menyadari bahwa niat guru-guru kami memberikan hukuman bahkan sampai kekerasan adalah demi kebaikan kami. Dan lagi kala itu guru kami mungkin tidak punya pilihan lain.

Di kala itu informasi tentang teori psikologi dan pendidikan yang konstruktif belum segencar sekarang. Yang salah adalah jika guru-guru sekarang terutama yang masih muda melakukan hukuman dan kekerasan yang serupa padahal sekarang sudah banyak dikembangkan metode pendidikan yang menyenangkan dan ramah anak.

Lantas kalau tidak menghukum maka dengan cara apa mendisiplinkan seorang anak? Nah, yg dilakukan teman saya ini bisa dijadikan pelajaran.

Teman saya ini paham sekali dengan atmosfer sekarang. Bahwa tindakan menghukum sampai melakukan kekerasan itu bisa merugikan kedua pihak baik guru maupun siswa. Untuk menangani siswa yang terlambat ia tidak memberi hukuman seperti menyuruh mereka berlari mengelilingi lapangan, menjemur dibawah terik matahari, apalagi sampai memukul. Tidak ada hukuman fisik sama sekali. Lalu apa yang dilakukannya? Memberi contoh. Ia percaya bahwa satu contoh kecil lebih baik dari ribuan nasehat apalagi hukuman.

Rumah teman saya ini berjarak kurang lebih 40 km dari sekolah. Butuh waktu satu jam untuk sampai di sekolah yang berada pada salah satu lingkungan pesantren di Tebuireng. Jam masuk sekolah kami pukul 07.00, dan ia selalu datang setiap harinya 30 puluh menit lebih awal. Bisa anda bayangkan bahwa ia harus sudah berangkat pukul 05.30 disaat kebanyakan guru lainnya masih menikmati kopi sampil sarapan. Untuk apa ia harus berangkat sepagi itu?

Pertama ia ingin memberikan contoh kepada semua siswanya bahwa ia yang rumahnya cukup jauh saja bisa datang lebih awal. Kedua ia datang sepagi itu untuk turut andil membangunkan siswa-siswa kami yang beberapa masih tidur di asrama. Setiap pagi, setiap hari ia berjalan dari komplek ke komplek dari kamar ke kamar untuk membangunkan siswa-siswa itu. Caranya membangunkannya pun sama sekali tidak menunjukkan kekerasan. Ia melakukan pendekatan yang penuh persahabatan.

Seringkali saya amati ketika ia membangunkan beberapa siswa dengan mengajaknya bercanda “ayo bro tangi bro, pegel ta? Dipijeti sek ta?”. Ayo bro bangun bro, capek ya? Dipijat dulu ya. Sering saya amati pada akhirnya ia memijat kepala beberapa siswa kami untuk meredakan kantuk mereka.

Apakah pendekatan yang lemah lembut dan tampak tak punya kuasa dan kekuatan itu berhasil?

Berhasil. Justru pendekatan yang dengan cinta kasih ini punya kekuatan yang luar biasa. Siswa kami sekarang lebih displin dibanding beberapa sekolah tetangga. Presentase kedatangan siswa kami yang tepat waktu berangsur meningkat. Memang belum 100% berhasil, tapi pendekatan ini tidak beresiko atau merugikan semua pihak. Bayangkan jika contoh yang diberikan oleh teman saya ini dilakukan semua guru di sekolah kami, lebih-lebih semua guru di negara ini. Saya yakin kita bisa menghadirkan dunia pendidikan yang penuh semangat.

Tidak mudah memang, tapi teman saya tidak boleh sendirian. Semoga contoh luar biasa yang ia berikan bisa menginspirasi semua siswa terutama siswa di sekolah kami. Dan terlebih menjadi inspirasi bagi guru terutama guru di sekolah kami bahwa pasti selalu ada jalan mendisiplinkan tanpa memberi hukuman.

Sekian. Jayalah pendidikan indonesia.

Jombang, 4 Pebruari 2018
Rachmat D. Cemat, teman guru yang ingin mencontohnya.

Facebook Comments

Uncategorized

16 thoughts on “Mendisiplinkan Tidak Perlu Menghukum Saya punya seorang teman guru yang…

  1. Kl yg bukan pesantren bagaimana ya saran solusinya?? Tdk ada asrama, tdk ada kamar2 di sekolah. Semua siswa tgl bersama orgtua/wali nya. Guru2nya sdh dtg pagi sblm bel masuk berbunyi, tp siswa2nya msh bnyk yg suka dtg terlambat

  2. 🙏🙏 bismilah saya coba di lingkungan pondok dimana saya mengajar di MTs dan ponpes semoga berhasil dan mengurangi prosentase siswa bolos pada jam pelajaran 🙏

  3. Utk yg tidak asrama sebenarnya lebih mudah. Bisa ditelpun atau di SMS diberikan semangat supaya datang tepat waktu ke sekolah(bisa bekerjasama dg orang tua juga). Hehehe. Kalo asrama Khan biasanya tdk blh ada hp.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *