*Kisah Perjalanan Para Guru yang Masih Diminta Allah untuk Mendidik…

*Kisah Perjalanan Para Guru yang Masih Diminta Allah untuk Mendidik di Daerah 3T
Semoga kita senantiasa bersemangat dan mengikhlaskan diri dalam mendidik…

Terimakasih Tuhan masih mengijinkan kami mengabdi

Adalah Atori distrik kokoda utara kab. Sorong selatan. Distrik dengan akses yang paling jauh dari pusat kota Teminabuan. Akses satu-satunya hanya menggunakan perahu longboat. Biaya perjalan bahkan mencapai 17jt sekali trip.
Hari ini kamis 16/3/2018 merupan hari yang sudah lama kami tunggu. Hari dimana kami mendapat kabar untuk melaksanakan tugas kewajiban sebagai seorang guru garis depan atau lebih dikenal dengan singkatan GGD. Yah besok jumat 17/3/2013 kami akan berangkat menuju ke lokasi penempatan di Atori distrik kokoda utara. Setelah menunggu selama lebih dari 3 bulan sejak SK kami terima.
Walaupun informasinya mendadak, kami sudah menyiapkan keperluan rumah tangga untuk nanti dipakai dilokasi jauh hari sebelumnya. Hanya bama (bahan makanan) saja yang kami beli buru-buru dengan sisa uang “receh” yang masih setia bertahan didompet.

Malam jumat badda Isya kami mengantar barang ke p.elabuhan Ampera Teminabuan via mobil pick up milik pak Dinar. Karena kami yang ditugaskan di SMP Negeri Kokoda Utara ada total 12 orang, 2 orang GGD 2015, 8 orang GGD 2016 dan 2 orang guru kontrak daerah maka tidaklah sedikit barang-barang bawaan kami. Mobil pick up pak dinar yang bisa dibilang sudah “veteran” itu harus berjuang dua kali bolak balik mengantar barang-barang kami.

Jam 22.30 barang-barang sudah terkumpul di pelabuhan untuk dimuat ke dalam longboat. Longboat menjadi satu-satunya moda transportasi umum yang bisa dipakai menjangkau daerah pesisir laut seperti wilayah Atori. Transportasi darat belum bisa menjangkau daerah tersebut. Waktu tempuh dari Teminabuan-Atori sekitar 10 jam jika cuaca bersahabat, namun jika cuaca “ganas” istilah masyarakat disini maka waktu temput bisa menjadi lebih lama lagi. Bahkan terkadang motoris (baca: pengemudi longboat) harus mengambil inisiatif untuk berteduh di muara-muara sungai hingga cuaca kembali bersahabat.

Barang-barang bawaan kami tidak langsung bisa kami muat ke dalam longboat karena air lagi meti (baca:surut). Kami harus menunggu air pasang kembali. Untuk antisipasi barang hilang, terpaksa kami bergiliran menjaganya.

01.00 dini hari kami semua bergegas menuju pelabuhan. Barang-barang pun kami muat ke dalam longboat. Setelah semua tersusun rapi, kami berharap bisa berangkat cepat mengingat perjalanan jauh dan cuaca di siang hari biasanya tak lagi bersahabat. Namun perjalanan harus tertunda karena mesin longboat sedang rewel. Mungkin sudah menjadi hadiah bagi kami selalu mendapat kendaraan yang sudah “uzur”. Sang motoris memperbaikinya kurang lebih 3 jam.

Setelah mesin bisa beroperasi, kami pun memulai perjalanan pada jam 6 pagi. Angin dingin yang menyapa kulit tak membuat semangat berkurang. Meski beberapa teman baru pertama kali naik longboat namun tak sedikit pun getir tersirat diwajah mereka.

Perlahan kami mulai meninggalkan muara menuju laut lepas. Semakin tinggi matahari semakin kecil pula pepohonan vegetasi khas pantai Papua, hingga akhirnya yg ada hanya garis datar pertemuan laut dan langit. Kusapu pandangan sekeliling sembari terus berdecak kagum akan panorama yang begitu tenang.

Setelah kurang lebih 3 jam di atas laut, dan tanjung demi tanjung terlewati, kegetiran sedikit mulai mencolek hati. Suara mesin longboat mulai tak beraturan. Bahkan mesin pun mulai bergantian padam. Kami yg sedari tadi bercanda mulai was was apalagi bagian depan longboat kiri kanan air merembes masuk melalui cilah antar papan longboat. Namun mengingat jam terbang motoris yg tinggi sehingga kami tetap semangat.
Memasuki wilayah inanwatan, ombak tampak sedikit lebih “nakal”. Longboat pun menari mengikuti irama ombak. Teman yang kelelahan sudah mulai terjaga dari kantuknya. Mesin yang rewel pun akhirnya mengharuskan motoris untuk berlabuh di muara Tarof distrik Kokoda.

Karena longboatnya berlabuh maka kami pun turun untuk istirahat sejenak. Kulihat jam di hp menunjuk angka 12 lewat. Saat berlabuh inilah, motoris mengambil kesempatan memperbaiki mesin. Sekitar satu setengah jam mereka mengutak atik mesin hingga akhirnya bisa menyala kembali. Kami pun diminta untuk naik kembali. Roy salah seorang GGD 2015 yang memiliki pengalaman perjalan lebih dari kami sudah enggan untuk naik. Dia malah berpikir untuk menginap saja di tarof sini. Namun karena yang menentukan keputusan adalah motoris maka ia pun naik kembali.

Mendekati wilayah Tambani, ombak kembali menunjukkan keperkasaannya. Longboat terombang ambing mengikuti irama ombak. Air dari kanan badan longboat terhempas naik membasahi kami yg duduk di depan. Memang karena muatan bisa dikatakan “over” dikarenakan persiapan bama (baca: bahan makanan) yang kami bawa diperkirakan cukup untuk 3 bulan, belum lagi peralatan dapur serta minyak sebanyak 800 liter. Tas pakaian serta peralatan mengajar seperti laptop, speaker dan lain lain juga cukup banyak. Masing masing kami membawa sekurangnya 2 tas yakni ransel, koper atau tas jinjing.

Jam 14.30 hal yang tidak pernah kami sangka dan harapkan terjadi. Mesin longboat dua-duanya mati. Otomatis kemudi pun tak ada karena kemudi sepenuhnya bergantung pada mesin. Berkali kali motoris mencoba menghidupaknnya namun tak jg berhasil. Posisi kami berada sudah tak jauh lagi dari muara kamundan. Kami sudah bisa melihat dari kejauhan vegetasi pepohonan khas muara. Ombak semakin besar menghempas longboat. Tak hanya satu arah namun sudah dari berbagai arah. Memang posisi kami saat itu berada di zona merah. Ombak di daerah tersebut terkenal ganas dan sudah sering memakan korban.

Saya yang duduk paling depan menghadap kearah berlawanan dapat melihat dahsyatnya ombak dari belakang yang menghempas kami. Seketika itu juga saya merasa sangatlah kecil di tengah lautan Allah yg sangat luas ini. Dalam hati saya berdoa memohon keselamatan bagi kami semua Bagaikan mukjizat yang langsung Allah kirimkan bagi kami semua, tampak dari kejauhan ada sebuah longboat lain yang sedang melaju menyusuri pesisir kearah yang sama yang akan kami tuju. Spontan pak Emaus seorang guru kontrak asli Papua berteriak “game”. Awalnya kami tak mengerti, tapi melihat dari gesturnya kami mengerti kalau “game” artinya melambai.
Tak berlama lama, kami pun melambai, berteriak berusaha mendapat perhatian dari longboat yang kami lihat dari kejauhan tersebut. Pak Emaus berdiri di atas atap longboat mencoba mendapat posisi yg lebih baik untuk menggame. Dia menggunakan pelampung yang tadinya dipakai oleh salah satu dari kami dengan harapan dapat terlihat lebih jelas jika melambaikan pelampung yang berwarna oranye terang.
Setitik harapan muncul ketika longboat yang kami game berbelok ke arah kami. Namun harapan itu memudar ketika ombak kembali menghempas longboat kami dan menjadikan kami seakan tertutup oleh ombak kalau dilihat dari kejauhan. Longboat yang kami game pun kembali berbelok menjauhi kami. Namun kami tak putus harapan. Kami tetap melambaikan pelampung, meniup sempritan yang terpasang pada pelampung yang kami kenakan. Sembari dalam hati berdoa dan berharap longboat yang jauh itu bisa berbelok kearah kami lagi.

Ketika harapan mulai hilang, dari balik ombak tampak longboat yang kami panggil bergerak dengan cepat kearah kami. Sang penolang tersebut tampak semakin mendekat dan akhirnya menemukan kami.

Ketegangan belum berhaenti disitu, mendekatkan longboat agar bisa kami jangkau untuk berpindah tempat sama sekali bukan perkara mudah ditengah terjangan ombak. Beberapa kali posisinya sudah bisa dijangkau namun kembali berjauhan ketika hempasan ombak menghantam body longboat. Pak emaus dan motoris berteriak ke kami untuk lompat tapi posisi longboat belum memungkinkan untuk kami lompat. Bahkan longboat sempat bertabrakan. Posisi longboat kami ada dibawah sementara longboat yang menolong kami berada diatas dari samping sebelah kiri. Kepala Jailani sempat terbentur. Namun karena panik semua itu tidak ia rasakan. Setelah posisi pas, kami berlompatan ke longboat penolong kami. Tak ada lagi pikiran untuk menyelamatkan barang bawaan kami yg berharga kecuali menyelamatkan nyawa kami. Yang paling dikhawatirkan adalah ada 4 orang teman kami yang perempuan sementara sisanya 7 orang laki laki dari total 12 orang guru. Pak emaus tidak melompat pindah karena ingin menemani motoris. Mereka masih berharap bisa setidaknya membawa longboat kearah yg lebih dekat dengan muara kamundan. Yang sedikit lucu adalah Randy, dia yang sedari awal naik dilongboat tidak pernah melepas tas selempangnya yang berisi dompet dan HP, seketika itu melepaskan tasnya dan melompat ke longboat sebelah. Mungkin karena panik jadi logika sudah tidak berjalan lagi.
Ketika kami yang 11 orang sudah berpindah dari longboat yang satu, sang motoris dari longboat penyelamat dengan cekatan membawa kami menuju muara Kamundan. Kami akhirnya bisa bernapas lega setelah longboat memasuki sungai Kamundan. Kami tiba di kalitami jam 15.30.

Disini kami dibawa ke rumah warga bernama Pak Ansar, salah seorang guru di kalitami uang kebetulan kenal dengan salah satu dari teman kami. Disini juga kami bertemu guru GGD 2015 yang ditugaskan di daerah ini dan om Salama ketua KKSS (kerukunan keluarga sulawesi selatan).

Setelah beristirahat dan makan, sekitar jam 17.30 kami mendapat kabar yang mengejutkan. Longboat yang kami tumpangi pecah ditengah laut. Pak Emaus dan 5 orang motoris berhasil diselamatkan warga setelah berenang lebih dari 3 jam. Beruntung mereka semua orang yang kuat dan sudah terbiasa dengan laut. Seandainya kami diposisi mereka, entah apa yang akan terjadi. Mungkin kami akan pualng hanya dengan nama saja.

Barang bawaan kami semua sdh berserakan dilautan, sebagian besar sudah tenggelam. Hanya beberapa tas yang bisa diselamatkan oleh warga saat melakukan pencarian. Saya dan pak Roy sempat ikut melakukan pencarian malam itu juga. Namun karena kondisi gelap serta hujan kami tak bisa menemukan banyak barang. Kami hanya mengandalkan senter untuk penerangan dan itu tidak bisa membantu banyak. Hanya karton karton dan tas yang masih mengambang yang bisa kami selamatkan. Itupun isinya sudah rusak. Bama dan barang lain yang berhamburan dipermukaan air laut membuat hati saya dan pak Roy pilu. Betapa tidak barang tersebuat kami beli setelah menghabiskanhampir keseluruhan rupiah yang ada didompet kami bahkan ada teman yang menghutang pada teman lainnya untuk membeli barang-barang tersebut. Dan kini barang tersebut berserakan dihadapan kami yang sudah tak bisa kami selamatkan karena sudah rusak. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat dibadan saja.

Keesokan hari kami berkordinasi dengan teman-teman yang ada di Teminabuan untuk melaporkan keadaan kami kepada pemerintah dan pihak lainnya. Beruntung ada sinyal telepon dan sms di kalitami meskipun hanya jaringan GSM (geser sedikit mati).

Sorenya, sabtu 17/03 pak bakri dan edy GGD penempatan Tarof datang untuk menjemput kami. Namun karena cuaca buruk kami masih harus bermalam lagi di kalitami. Seakan tak cukup dengan hanya nyawa yang tersisa, kami masih harus mendengar kabar kalau beban kerusakan longboat berikut mesinnya yang hilang harus kami tanggung. Taksiran pertanggungjawaban itupun tak main-main, ada 8 angka nol yang berbaris sebelum angka satuan didepannya. Yah kami hanya bisa berpasrah menyerahkan urusan ini sama yang diatas. Allah tahu apa yang terbaik untuk kami.

Esok paginya kami berangkat menuju Tarof dan kemudian dari Tarof kami sudah ditunggu oleh bapak-bapak BNPB daerah Sorong Selatan. Kami pun dipulangkan kembali ke Teminabuan dengan menggunakan speedboat milik BNPB. Sekitar jam 12 siang kami sampai kembali dipelabuhan ampera. Kami disambut oleh pak bupati Sorong Selatan Bapak Samsuddin Anggiluli dan dibawa untuk makan siang. Beliau meminta kami untuk bertemu kembali keesokan harinya untuk melaporkan kejadian yang kami alami.

Kami bersyukur masih diberi keselamatan oleh Allah Tuhan yang maha kuasa. Terimakasih Tuhan masih mengijinkan kami mengabdi untuk negeri ini.

Oleh Dasrianto

Kami yang mengalami musibah
Guru kontrak
1.Emaus Hiluka
2.Onah Ferdinandus
Guru GGD
1. Roy Taraaungan
2. Harniati
3. Dasrianto
4. Andre Monoarfa
5. Randy Lengkey
6. Ratna Sani
7. Sriyulia Admitasari
8. Syamsuddin L
9. Mursin
10. Mohammdad Jailani
Motoris 5 orang
1. Buce Oraite
2. Arki Oraite
3. Beni Oraite
2orang lainnya kami belum tau nama.

#GGDSORONGSELATAN
#MBMI
#ATORIDISTRIKKOKODAUTARA

Facebook Comments

Uncategorized

3 thoughts on “*Kisah Perjalanan Para Guru yang Masih Diminta Allah untuk Mendidik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *