Kalau ingin didemo persoalan guru, namun, tentang apanya? Tentu jam…

Kalau ingin didemo persoalan guru, namun, tentang apanya? Tentu jam kerjannya. Jam kerja inilah yang menjadi pertanyaan. Marx menjelaskan ketika waktu kerja melebihi jam produktif kita namun gajinya hanya sesuai dengan jam produktif belaka. Itu berarti eksploitasi. Jam produktif 5 jam misalnya, dan gajinya berkisar 1 juta, sedangkan waktunya diperpanjang menjadi 10 jam tapi gajinya tetap 1 juta. 5 jam merupakan keuntungan oleh para pemilik modal sedangkan pekerja menderita tanpa pengetahuan sedikit pun.
Nah pertanyaannya kapankah jam produktif guru? Dan berapa gajinya?
Yuks, berbagi ilmu dong. Entah itu sumbernya barat atau timur, dan juga biar disebar dan tetap menyuarakan suara guru tanpa memandang tingkatan.

Facebook Comments

Uncategorized

24 thoughts on “Kalau ingin didemo persoalan guru, namun, tentang apanya? Tentu jam…

  1. Apabila ada yang bersuara atau berpendapat mempertanyakan hak dan kewajiban guru, selalu muncul komentar yang sama :
    1. Kenapa mau jadi guru ?
    2. Hidup pilihan.
    3. Jangan pilih jadi guru bila ingin kaya


    dsb.

    Kalau saya berpendapat, pertanyaan atau pernyataan itu bukan penyesalan sebuah pilihan atau karena tidak adanya pilihan.

    Tetapi, lebih pada keinginan untuk mengangkat HARKAT dan MARTABAT seorang guru, terutama di mata para peserta didik (baca : siswa)

    Bagaimana bisa cerita sebuah KESUKSESAN dengan ilmu yang dimiliki, bila guru tersebut belum terlihat sukses dimata muridnya ?!?

    Bagaimana bicara indahnya memiliki profesi yang dapat dibanggakan, bila guru masih kecut mengakui bahwa profesi ini tidak menarik ?!.

    Indikator paling mudah adalah bertanya pada anak, saudara atau orang di sekeliling kita, maukah kamu/Anda menjadi guru ??

    Bila jawaban TIDAK, itulah potret guru saat ini.

    Maaf, bila ada yang tidak berkenan. Terima kasih.

  2. Sya pernah diskusi sama pengawas, saat pemeriksaan administrasi, disitu sya banyak bertanya dari mulai silabus,promes,prota, KKM dan mengenai K13, pedagogik…si pengawas hanya jawab ikuti aja aturan pemerintah….dan malah melebar menyinggung sertifikasi… disitu sya lansung jawab bu maaf yg sya tanyakan itu buka sertifikasi, maslah sertifikasi untuk saat ini sya belum tertarik sertifikasi, sya fokus yg sudah ada aja gaji di yayasan ni terus naik menyeimbangi harga bahan pokok…
    sya langsung di tegur sama kepsek kalau mau gaji besar silahkan buka sekolahan sendiri…
    jadi maslah uang gaji itu sangat sensitif…
    itu yg sya rasakan menjadi guru swsta…
    jadi carilah usaha lain selain dari gaji guru itu malah tambah adem hatinya

  3. Semestinya, kalau pemerintah belum dapat memenuhi kebutuhan guru negeri, mengapa tidak mengangkat guru kontrak saja dengan gaji UMR, sehingga tidak ada guru honorer. Tentu di sini disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah jam mengajar.

  4. Kalau saya sendiri sih, ketika di sekolah saya g mempermasalahkan gaji, digaji berapapun tdk masalah bahkan sering telat bebeeapa bulan karena memang di tempat saya rata2 siswa ekonomi menengah ke bawah. Tapi saat ada tawaran privat saya harus target, apalagi kalau siswa privat itu anaknya orang menengah ke atas. Dan alhamdulillah dari privat itu bisa lebih dari UMR. Intinya bagaimana kita memilah kondisi saja. Kapan kita harus utamakan idealisme kapan harus realistis.

  5. Mungkin ada contoh ustadz- ustadz waktu dulu saya sekolah madrasah ibtidayah (SD) mereka para ustadz itu tidak menerima gaji hanya terkadang diberi beras, ikan atau sayur dll suka rela bahkan kadang tidak memberikan apa2, Setelah pulang mengajar para ustadz tersebut berkebun untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tetapi kalau ditanyakan apa perasaan bpk menjadi ustadz mereka menjawab sangat “Bahagia” menjadi “guru” suatu pernyataan yg luar biasa…. itulah sebagian cermin seorang guru sejati…..

  6. Super sekali pendapat dan pencerahanx pak Nan Jeri buat guru2 indonesia..anda mengeluh bukan solusi, tapi bagaimana anda menjadikan keterbatasan itu dari contoh2 yg diberikan teman sesama guru..sebagai solusi, kemudian diikuti dgn tindakan yg nyata, dipraktekkan dan dicoba..ketika saya msh gaji minim, tugas dikampung orang..saya mencangkul, berkebun..utk memenuhi kehidupan sehari2..disela2 kegiatan sebagai guru, dihari libur..itu pengalaman yg pernah saya alami selama 11 tahun tugas dipelosok pedalaman..

  7. teman2 guru kalau kita Mengharap guru se – indonesia ini mendapat kan gaji sesuai standard UMR sepertinya sangat sulit, berat dan tdk mungkin terlaksana karena keterbatasan dana pemerintah sedangkan subsidi rakyat saja byk yg dicabut, sedangkan Yayasan sesuai dengan kemampuan masing2

  8. Perbedaan besar antara di kota dan kampung itu bisa dilihat dari sistem pertukarannya, di kampung uang mungkin tak terlalu dinilai tinggi (apalagi di daerah terpencil) jadi sistem pertukarannya itu lebih merujuk pada barter.

  9. Jawabannya untuk guru yang mengharapkan penghasilan dengan gaji besar ” harus menjadi guru yang pintar mampu bersaing dengan yang lainnya” supaya bisa lulus ketika ujian masuk CPNS atau Lembaga Pendidikan yang sudah mapan.

  10. Setuju Pak Nan Jeri Propesi guru sekarang seperti gula yg dikerubuti semut..beda waktu saya jadi guru tahun 1997..hanya sedikit anak muda yg mau jadi guru, atau ambil pendidikan guru..banyak yg memilih pakultas kehutanan, pertanian, ekonomi..karena prospek sgt menjanjikan waktu itu..tapi sekarang fakultas keguruan itu pavorit..karena gajix pns yg lumayan, ada sertifikasi..dgn banyaknya peminat tentu ada persaingan..waktu saya SMA dijurusan biologi, ada teori Charles darwin..tentang seleksi alam..yg mampu bertahan bisa tetap eksis..

  11. Setuju pak Riduannor S Pd seperti itu kenyataannya sekarang dan akan datang, apalagi kalau orang asing bebas bekerja di Indonesia berat lagi persaingan kita…..”semoga guru tetap semangat pantang menyerah dan menjadi terdepan dalam pendidikan”

  12. Belum lagi teori2 yg mengatakan thn 2028 kalau guru digantikan dgn robot..apalah jadinya guru..karena sebuah robot tdk akan membicarakan gaji, penghasilan..bahkan sebuah robot tidak makan dan minum..

  13. Dan saya yakin pasti ada komentar…
    1) Siapa suru jadi guru?
    2) Ngapain jadi guru, jadi pengusaha saja
    3) Kalau mau kaya, jangan jadi guru karena guru itu panggilan hati
    4) kenapa ga ngelamar CPNS aja
    5) kalau tidak suka jadi guru, berhenti saja.
    6)…
    7)…
    8)…

    Monggo diisi kolom nyinyirnya…

  14. Teringat curhat teman desember kemaren,ada sekolah yg butuh guru ekonomi dan negosiasi pun terjadi dan acc si teman akan dipanggil bulan januari tahun ini utk langsung mengajar,kenyataanny sampai habis bln maret tdk ada panggilan.sekolah tersebut share di grup butuh guru ekonomi lagi,usut punya usut ternyata tmen tdk dipanggil krn ada guru lain istilahnya krn sodara orang dlm tpi kenyataannya tdk sesuai dgn yg diharapkan sehingga sekolah tersebut butuh kandidat yg berkompeten baik mengoperasikan komputer dan siteman memiliki kualifikasi tersebut Apa yg harus dilakukannya dgn hal ini??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *