CONFESSION: “COMPROMIZED” Bentuk pengakuan dan permohonan maaf saya kepada masyarakat…

CONFESSION: “COMPROMIZED”
Bentuk pengakuan dan permohonan maaf saya kepada masyarakat Papua.

SAATNYA PENDIDIKAN BERBICARA di PAPUA BUKAN DALAM KESUNYIAN KEBENARAN…..

RANCUNYA PENDIDIKAN NASIONAL di PEDALAMAN PAPUA (BAGIAN 3)

Berbicara mengenai pendidikan Papua, tidaklah mudah, karena di dalamnya banyak Mafia pendidikan yang siap menikam dan mengancam, tidak mau dalam proses hukum, Sesudah saya menulis Surat Terbuka : Mengenai Ujian Nasional yang dikerjakan gurunya, pada tahun 2015, bulan Mei, di nomor HP saya banyak masuk sms dan telpon dari nomor baru yang tidak dikenal, saya menjadi bulan-bulanan, ada yang pendeta juga mengancam saya agar membatalkan atau menghapus surat terbuka saya di media sosial lalu saya harus menulis surat terbuka permohonan maaf supaya diijinkan kembali mengajar di Mbua, Nduga. Saya mencintai Papua. Saya sangat mengasihi Papua sehingga melihat kondisi pendidikan di pedalaman Papua dari 2012 – 2015, saya perlu bersuara karena bagaimana pun hati nurani saya sedang menghakimi saya.
Pada dasarnya pelanggaran HAM terbesar adalah pelanggaran dalam mengabaikan pendidikan bagi generasi muda sebagai generasi penerus yang perlu dikaderkan demi terpenuhinya kepemimpinan yang handal baik dalam jiwa, moral, jasmani dan segala bidang. Melalui pendidikan yang benar, tepat dan baik, para siswa maupun masyarakat juga belajar mengenai kesehatan, kerohanian, gizi dan banyak hal lain. Pendidikan bukan sekedar membaca, menulis, berhitung.

2012, awal pertama saya ke Mbua, Nduga, semua guru dinas pns/asn waktu itu hanya ada 2 yang datang, itupun guru SD Inpres, bukan guru SMP Negeri, di SMP Negeri yang ada hanya bapak kepala sekolah, 2 guru pns itu pun yang rajin hanya 1 guru, guru yang satunya sibuk naik turun Wamena-Mbua-Wamena, di Mbua cuma 2 hari – 5 hari, di Wamena satu bulan, bahkan 2 bulan, siswa tidak ada proses belajar mengajar yang pasti, sehingga 1 guru bisa pegang 6 kelas bahkan saya pernah pegang 11 kelas, sendirian : dari SD, SMP & SMTK (Sekolah Menengah Teologi Kristen – setingkat SMA). Bagaimana siswa-siswi bisa memenuhi target kalau guru tidak konsisten hadir, mengajar, mendidik para siswa? Saya sering menangis dalam kesunyian memandang dan mengerti keadaan ini, karena bagaimana pun tidak banyak orang yang bisa diajak bicara masalah ini. Siswa menurut pandangan saya sangat rajin masuk, kendalanya ada pada para guru, buku tulis dan peralatan tulis. Ketika tidak ada guru maka kegiatan belajar pun mati.
Ketika guru ASN/PNS yang ditugaskan tidak hadir maka biasanya kalau guru lokal ada di tempat, mereka juga yang mengajar. Baru di Papua ini, saya baru mengetahui mengenai banyak istilah guru yaitu guru lokal, guru honorer, guru kontrak, guru dinas, guru PNS, guru misi, relawan guru dan lain-lain. 2012 adalah awal tahun kebebasan berkreasi bagi saya, karena di tahun tersebut saya tidak ada gangguan dari guru lain termasuk guru dinas PNS sehingga perkembangan siswa dapat saya pantau.
2013, ketika kepala sekolah SMP mempercayakan beberapa mata pelajaran kepada saya untuk saya ajar, diantaranya bahasa Inggris, bahasa Indonesia, Biologi, Sejarah, IPS, maka saya senang sekali, kenapa Matematika tidak ada?
Karena waktu itu saya belum minat dengan pelajaran Matematika untuk saya ajarkan di pedalaman Papua, namun beberapa bulan kemudian ketika guru-guru dinas mulai berdatangan, semua mata pelajaran yang dipercayakan kepada saya diambil alih, kecuali bahasa Inggris. Seminggu kemudian satu persatu guru dinas PNS ada yang kembali ke kota Wamena, sampai 2 minggu kemudian, semua guru dinas PNS tidak ada, lantas apa yang terjadi kemudian? Hasil kerja saya dalam mengajar siswa menjadi berantakan, karena siswa yang sudah mulai bisa menulis ketika berbulan-bulan dengan saya, tidak bisa menulis lagi, huruf besar dan huruf kecil bentuknya dan penggunaannya lupa. Saya sesak nafas. Ternyata dampak kedatangan guru dinas PNS sungguh besar. Sejak saat itu saya kurang tertarik untuk berhubungan dengan guru dinas PNS. Saya kembali mengulang mengajar, konsisten, siswa sedikit demi sedikit mulai bisa kembali menulis huruf dengan benar. Setelah itu libur bulan Juni – Juli.
Namun, Agustus 2013, pertengahan Agustus, saya kembali datang dan terlambat, karena harusnya bulan Juli, namun saya kesulitan berkat atau keuangan (karena saya hanyalah relawan), karena ongkos ke Wamena – Mbua, sekitar 5 jutaan pakai MAF, kalau pakai AMA, Susi Air, TARIKU sekitar 15 juta – 30juta ketika itu. Uang darimana ini? Sehingga saya tidak bisa datang dengan cepat, biasanya saya datang dengan kepala sekolah SMTK atau ketua Klasis waktu itu. Ketika saya datang ternyata SMP Negeri sudah mulai belajar tapi yang mengajar guru lokal, saya perhatikan tulisan siswa sudah kacau lagi, ini saya mau marah, sedih, terharu, bercampur jadi satu. Saya semakin bingung. Setelah itu saya ambil kembali pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan guru lokal, guru lokal mengajar bahasa daerah saja dan agama.
Saya sebenarnya relawan guru di SMTK karena latar belakang pendidikan saya adalah ilmu mengenai Teologi, namun karena bahasa Indonesia saja kesulitan bagaimana mungkin mereka bisa memahami Etika Kristen, Dogmatika, dan pelajaran Teologi lainnya. datang pertama kali 2012, saya sangat ingin Teologi dipercepat diajarkan, semester pertama 2012, saya paksaan semua pelajaran hasilnya mereka pusing. Para siswa bingung karena bahasa akademis saya terlalu tinggi untuk dipahami, meskipun SMTK -Sekolah Menengah Teologi Kristen- ini setingkat SMA.
2012, sejak semester kedua, saya dipercaya oleh kepala sekolah SMTK untuk membuat jadwal pelajaran bagi para guru lokal/pendeta yang mengajar di SMTK. Di SMP, bapak kepala sekolah juga memberikan jadwal mengajar kepada saya, saya buat jadwal supaya tidak tabrakan mengajar saya di 2 sekolah karena ketika itu guru lokal juga mulai rajin. Namun seringkali saya tetap mengajar sendirian walau ada guru lokal, karena guru lokal seringkali juga banyak tidak masuknya dan menggunakan jasa siswanya untuk buat kebun.

Ketika mau sekolahkan anak pedalaman ke Jayapura, saya sadar bahwa itu bisa mencabut anak dari akar budayanya jadi ada yang memberi saran agar SMA saja disekolahkan di Jayapura Kota, namun berdasarkan pertimbangan saya, biasanya kalau sudah SMA baru dibawa di kota, sudah terlambat, karena membaca dan menulis harus diulang lagi. Kita juga tidak sembarangan membawa anak disekolahkan ke Jayapura Kota, harus yang benar-benar cerdas dan sangat tertarik dengan penuh minat yang tinggi untuk belajar, juga diingatkan kepada yang mau sekolahkan di Jayapura untuk tetap mengajarinya tentang nilai-nilai budaya sehingga tidak lupa buat pagar, tidak lupa cara buat honai, tidak lupa cara menanam ketika mereka telah lulus dan kembali ke sekolahnya.

Sekolah yang cocok dan tepat untuk pendidikan di pedalaman Papua adalah kembali ke pola Misionaris, yaitu:
1. Sekolah berpola Asrama
2. Sekolah Adat, Pemerintah bersama kepala suku bekerja sama untuk konsep sekolah adat sehingga budaya yang benar, tepat dan baik tetap bisa digunakan.
3. Sekolah Alam yaitu sekolah tanpa gedung, langsung di luar, meneliti, langsung praktek, sambil bekerja, berkebun, menulis jenis umbi-umbian asli yang ada di pedalaman Papua, jenis daun dan lain-lain, mengembangkan kreatifitas anak.
4. Sekolah lifeskill yang mengajarkan keterampilan hidup.
Harapan saya, masukan saya ini tolong disampaikan kepada bapak Presiden Joko Widodo, sebagai bentuk komitmen saya dalam membangun Papua. Mudah-mudahan ibu Puankath Cinde, bapak Satria Dharma, teman-teman IGI berkenan menyampaikannya, ibu Soe Tjen Marching, bapak Aleks Giyai, bapak Yan Akobiarek, ibu Setiani Rini S, bapak Ence Floriano, bapak Dayu Rifanto, ibu Eko Pratiwiningsih.

Saya juga sering menolak untuk tidak mengerjakan Ujian Nasional 2012, namun belas kasihan tak sampai hati, karena siswa SMTK saya sebagian besar orang tua yang beruban/kakek-nenek, mengatakan, “Lebih capek untuk menulis daripada kerja kebun.” Maka saya kerjakan Ujian Nasional tersebut. Demikian juga 2013, Ujian Nasional SMTK untuk semua siswa, saya yang mengerjakannya, karena kendala usia siswa saya masih sama dengan tahun 2012, baru tahun 2014, saya tidak mengerjakan Ujian Nasional para siswa, itu pun dengan pertengkaran keras guru lokal, kepala sekolah dan saya. Saya menjelaskan bahwa Ujian Nasional tidak menentukan kelulusan tetapi sekolah. 2015, hati saya tidak tega lagi, karena para siswa kebanyakan usianya sudah sangat tua untuk usia sekolah formal, saya mengerjakan Ujian Nasional. Namun ketika siswa dimintai ayam, babi, uang, untuk bakar batu, masing-masing siswa bawa ayam, babi untuk mengucap syukur bahwa Ujian Nasional sudah dikerjakan dengan baik, meluaplah emosi saya, meledak, saya simpan tahunan akhirnya meledak karena apa yang kita lakukan di Ujian Nasional tidak patut disyukuri karena penuh manipulasi, guru yang mengerjakan Ujian Nasional SMP biasanya mendapat ayam hidup untuk dibawa pulang ke Wamena, kalau ada 40siswa, ada 40 ayam, gurunya ada 5, ditambah 2 pengawas Ujian Nasional dan 1 kepala sekolah, maka 40 ayam dibagi ke 8 orang, kira-kira masing-masing dapat berapa? belum lagi siswa juga harus bawa babi di pedalaman Papua, babi bisa seharga 50juta, seekor babi, untuk syukuran, kalau 2 ekor babi, bagaimana? 3 ekor babi berapa harga? belum siswa ditarik uang lagi, termasuk uang ijazah dan SHUN….ini fakta yang terjadi. Ketika saya diberi tugas kotbah syukuran 2015, bahwa Ujian Nasional bulan Mei tingkat SMP Negeri Mbua, Nduga, bisa dikerjakan dengan baik, saya gemetar keringat dingin, saya tolak, ini penipuan, manipulasi dan memberatkan siswa. Setelah syukuran biasanya pengumuman libur.

Sehari sebelum syukuran dilaksanakan saya langsung pergi ke Wamena, hati nurani saya sudah tidak tahan lagi melihat apa yang terjadi di dalam pendidikan pedalaman Papua. Siswa jadi korban. Sungguh saya menangis.

Inilah pengakuan saya, sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Papua karena mengajarkan hal yang tidak benar bagi generasi Papua, sebagai bentuk kegagalan saya dalam dunia pendidikan Papua.

Semoga Tuhan mengampuni saya dan bapak Presiden maupun bapak gubernur Papua beserta Menteri Pendidikan menindak lanjuti hal ini untuk kita cari solusinya bersama-sama, sebagai pemecahan persoalan pendidikan di Papua.

Kalau ada yang mau share tulisan saya atau copy paste tulisan saya ini, saya ijinkan asal ditulis juga sumbernya, saya sarankan untuk copy paste saja, supaya ketika ada yang laporkan akun fb saya dan diblokir, maka tulisan ini masih ada. Terima kasih.

Contact person saya (082149467044, Andri Kristian)

Facebook Comments

Uncategorized

2 thoughts on “CONFESSION: “COMPROMIZED” Bentuk pengakuan dan permohonan maaf saya kepada masyarakat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *