Bagaimana pendapat bapak ibu disini? Jogja akan memberlakukan sistem zonasi…

Bagaimana pendapat bapak ibu disini?
Jogja akan memberlakukan sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru.
Jadi 90%siswa diterima sesuai jarak rumah ke sekolah tanpa tes, tanpa menghiraukan hasil NEM/UN, bahkan yg diprioritaskan adalah NEM yg terendah.
Ada kekhawatiran:
1. Siswa jadi menyepelekan belajar karena toh hasil ujian / NEM berapapun ga berpengaruh n pasti ketrima sekolah yg dekat dr rumahnya
2. Siswa menyepelekan ujian n belajar itu sendiri.
3. Kenakalan siswa semakin meningkat karena menyepelekan belajar…

Bagaimana menurut bapak ibu guru IGI disini? Terimakasih…
Ijin share ya jeng Priska Yuaningtyas… bagaimana menurut panjenengan Bu Novi Candra dan bunda Aulia Wijiasih?

Facebook Comments

Uncategorized

25 thoughts on “Bagaimana pendapat bapak ibu disini? Jogja akan memberlakukan sistem zonasi…

  1. “Siswa jadi menyepelekan belajar” pasti ada pengaruh dr lingk, baik ortu maupun guru, hehehe …. Mari perbaiki mind set mereka ttg bljr, yaitu vahwa bljr adalah proses slm hdp, bkn sekadar mau ujian. Apalagi cuma biar dpt nilai yg bs meloloskan diri msk k sklh pilihan

  2. No 1 gugur dengan sendirinya jika keputusan MA dipatuhi … kata kuncinya “patuh” , siswa / masyarakatpun akan patuh pada sekolah yg gak mwluluskan ato tdk menaikkan anaknya …

    Gugurnya no 1 mempengaruhi no 2 dan 3 … 🙂 🙂

  3. Sistem zona its ok, klo saya, mungkin bu AlinediJogja Jogja, perlu ke pelosok Gunungkidul dgn kondisi geografisnya yg khas, klo sdh menyusuri Gunungkidul, akan merasakan manfaat sistem zona.
    Menyepelekan atau tidak, tergantung stokeholder sekolah. Jarang sekarang, utk ukuran Jogja, siswa menyepelekan sekolah. Klopun ada prosentasenya kecil. Meski dari prestasi akademik tdk membanggakan. Tapi siswa spt itu punya sisi lain yg bisa dikembangkan.
    Sbg guru, tdk layak dan bijak, bila kita menyalahkan kambing yg sdh hitam…..kuwatirnya si kambing hitam minta bulunya dicat putih semua…

  4. Di ujung timur Gunungkidul, ada sekolah swasta, secara akademis tdk pinter, tp secara atittude, mereka bisa dibanggakan. Tingkat kedisiplinan mereka tinggi, padahal rata-rata org tua mereka berprofesi sbg petani.

  5. Kalau sampai akhirnya siswanya berlaku seperti tiga hal yg dikhawatirkan, maka gurunya lah yg salah.

    Selama ini, guru hanya memfokuskan agar belajar memperoleh nilai alih-alih menumbuhkan kesadaran siswanya. 😊

  6. Apakah prioritas tsb untuk semua sekolah atau hanya sekolah dgn jmlh siswa sedikit

    TDK mungkin rasanya sekolah yg bagus menerima murid hanya dari jarak rumah saja tanpa mempertimbangkan kualitas pst didik

  7. Saya setuju dengan Hal ini. Emang sekolah itu hanya utk mencari sekolah ke jenjang selanjutnya. Wajar kalau awal saja. Dengan Hal ini tdk Ada kesenjangan nantinya. Kalau pernah mengajar anak anak inklusi tentu akan setuju dengan kebijakan seperti ini. Sekolah faforit mungkin krn inputnya faforit, ortunya faforit. Nanti lama pendidikan akan merata. To diikuti dengan pemerataan kualitas guru, kualitas sarana Dan prasana, kesadaran masyarakat Dan orang tua. Termasuk tantangan guru bahwa Kita Cari ilmu , Kita sadarkan Bersama temen guru, murid Dan orang tua, bukan Cari nilai settingginya utk masuk sekolah

  8. Masih blm “ngeh” dg kalimat : ” bahkan yg diprioritaskan Nem yg terendah”
    Apa nantinya dlm “penyusunan peringkat” pendaftar dg metode “Peringkat berbanding terbalik dengan Nem” ?

  9. Gak kebayang kl sistem ini dipakai didaerah kami.yg thn ini aj zonasi 50%… gurunya dah ngeluh.
    Minat bljr siswa kurang.tugas2 sering tdk dikerjakan.berani melawan guru.sembunyi2 maen game dikelas…itu rata2 dilakukan oleh murid zonasi (tp yg nilai UN nya pas jurnal ya plng bwh lah) . Kl murid yg lintas zona(nilai UN tinggi) ya tetep bagus2 aj prestasinya.
    Kebetulan daerah kami kualitas Sekolah blm merata spt dipulau jawa…jd blm tentu disetiap zona ada sekolah yg diunggulkan.

  10. Kutip:Gak kebayang kl sistem ini dipakai didaerah kami.yg thn ini aj zonasi 50%… gurunya dah ngeluh.
    Minat bljr siswa kurang.tugas2 sering tdk dikerjakan.berani melawan guru.sembunyi2 maen game dikelas…itu rata2 dilakukan oleh murid zonasi (tp yg nilai UN nya pas jurnal ya plng bwh lah) . Kl murid yg lintas zona(nilai UN tinggi) ya tetep bagus2 aj prestasinya.
    Kebetulan daerah kami kualitas Sekolah blm merata spt dipulau jawa…jd blm tentu disetiap zona ada sekolah yg diunggulkan.

    ==> bukankah itu memang tugas guru untuk mendidik?

  11. Menurut hemat sy anak akan menyepelekan belajar atau tdk itu tergantung pd manajemen PBM oleh guru dan sekolah. Sekolah hrs bisa menciptakan iklim belajar, jg iklim kompetitif yg sehat. Mgkin diantaranya sekolah hrs bs menghargai sekecil apapun dan pd bidang apapun kemajuan yg dicapai siswa, dg demikian siswa merasa dihargai dan tdk menyepelekan belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *