Bagaimana menurut ibu/bapak sekalian mengenai pembagian kelas di tiap jenjang…

Bagaimana menurut ibu/bapak sekalian mengenai pembagian kelas di tiap jenjang yang dipisahkan berdasarkan kemampuan siswanya. Apakah ini efektif atau tidak? Mohon pencerahannya

Facebook Comments

Uncategorized

11 thoughts on “Bagaimana menurut ibu/bapak sekalian mengenai pembagian kelas di tiap jenjang…

  1. Yg sy temui adl d sd.
    Dan yg trjd dsana anak2 spt dkmpulkan brdsarkan pd kmmpuan IQ nya saja. Kls A yg pling pintar dg sikap yg bgtu penurut, kls B kmpuan dan prilaku sdang dan bsa dst
    Itu bgaimna?

  2. Zaman sekolah dulu jg begitu.. Ada kelas prestasi, kelas berbakat dan kelas ga istimewa… Pas masuk kelas prestasi Guru2nya normal, kelasnya tenang banget, kaya lewat di kuburan.., pas masuk kls berbakat, Guru2nya killer bgt, sering ngamuk gegara muridnya gemar celatak-celetuk, nah pas di kelas ga istimewa, Gurunya cuek, terserah mau ngarti apa kagak, pelajaran jln terus, kelasnya jg ribut bgt..
    Wah.. aseli berasa guru pilih kasih deh..
    Tujuannya apa sih diklasifikasi begitu? Biar memudahkan guru melaksanakan KBM kan..? Trus anak belajar apa selain berkompetisi dan saling mengalahkan?

    Mending di gabung, dg aneka macam personality, kemampuan akademis maupun bakatnya. Karena setiap anak itu unik. Dlm pertumbuhan & perkembangannya setiap anak hrs belajar bersama ttg perbedaan, ttg saling menghargai dan saling menginspirasi satu dg yg lain. Tumbuh dlm perbedaan juga akan melatih kemampuan empati dan toleransinya

  3. Idealnya memang ada perbedaan di kelas antara tingkat atas, rata2 dan bawah.tapi Bagaimanapun kl 1 kelas terdapat siswa yg pintar, sedang dan kurang untuk melatih yg bawah supaya termotivasi ygdiatasnya. Dan yg di atas bisa mempertahankan atau meningkatkan belajarnya. dan yg tengah bisa termotivasi untuk mencapai atas. Kl siswa dipisahkan menurut kemampuan yg ada budaya sombong dan minder. Yg kelas unggulan akan merasa wah dan menyepelekan dan kelas yg bawah akan merasa minder. Bakat minat kan ada di ekskul

  4. Dari sudut pandang guru dan cara mengajar itu lebih baik. Karena guru bisa lebih fokus membantu kesulitan mereka belajar dan meyesuaikan baham ajar untuk kelas lemah. Kalau digabung yang lemah tertinggal kalau diulang yang mampu akan ribut. Maka sebaiknya tanpa melihat kesombongan dan minder itu lebih baik untuk perkembangan kemampuan anak. Dan sikap solidaritas anak perlu terus dikembangkan. Selain itu untuk merebut kelas unggulan akan lebih memotivasi anak belajar agar masuk kelas tersebut.

  5. Tergantung usianya, yang ada itu pengkhususan bidang ilmu di SMA.

    Dalam masa SD – SMP kognisi anak masih mungkin berkembang. Pedagogi sudah sampai ke era diferensiasi dan kecerdasan jamak, jika ini diterapkan di SD-SMP malah kembali ke era revolusi industri.

    Contoh anak-anak yang dianggap lemah di kelas musik?
    Nah itu George Harrison dan John Lennon, pendiri The Beatles, dibilang tolol dan aneh oleh guru musik mereka, ujung2nya? The Beatles. Beberapa murid saya yang seumur-umur gak pernah dikasi kesempatan, atau dikategorikan anak bermasalah, justru kerap berpotensi artistik tinggi.

    Kesaksian langsung dari saya, ketika saya kelas 3-4 SD saya paling benci tiap ada teman tanya ke saya “eh dia juga maen piano, jagoan siapa kamu sama dia?”
    Saya cuma melengos pergi, dalam hati bilang, “tiap orang beda, kalau saya perlu menjadi unggul dan lebih baik, adalah dari diri saya di hari kemarin”.

    Cobalah nonton Sister Act, Les Choristes, atau gak usah jauh-jauh lihat fenomena Leicester City saat juara dua tahun lalu. Bagaimana setiap anak (individu) aalah juara di tangan guru dan pelatih yang jeli dan tepat.
    Unggulan-Lemah, kalau kata anak jaman sekarang itu mah sudah kuno.

    Dulu kita punya gotong royong, pembelajaran berbasis grup, sekarang kemana ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *